Kisah Para Rasul 1:15 – 17, 20-26,
Yohanes 15:9-17
Shalom,
Kristus menunjukkan kasihNya yang teramat besar kepada Bapa dengan mentaati kehendakNya sampai wafat di kayu salib.
Dia ingin kitapun mengasihi Dia dengan sepenuh hati seperti Dia mencintai Bapa, yaitu dengan mentaati ajaran-ajaranNya.
Dengan kasih seperti itu, kitapun akan dilayakkan untuk mengambil bagian di dalam kesempurnaan relasi kasih antara Allah Bapa dengan Kristus.
Mengasihi Kristus bukanlah suatu perasaan sayang yang emosional, yang mudah berubah-ubah karena dipengaruhi situasi dan kondisi yang sedang dialami, tetapi suatu komitmen dan kesetiaan.
Lihat juga: Tuhan Setia Mengirim Pertolongan
Lihat juga: Setia Menyapa Tuhan
Kita tidak mengasihi Allah sebatas kalau Allah memberi kita hal-hal yang menyenangkan, yang membanggakan dan yang sesuai dengan keinginan.
Kita harus mengasihi Tuhan dan tetap taat kepada ajaran-ajaranNya walaupun apa yang dibiarkan Tuhan terjadi tidak seperti yang diingini, tidak mampu dimengerti dan terasa pahit untuk dihadapi.
Hal ini karena kita punya kepercayaan bahwa Allah sangat mencintai kita.
Dibalik peristiwa-peristiwa yang pahit dan berat untuk dihadapi, Tuhan mempunyai rencana lain yang lebih sempurna yang belum mampu kita pikirkan saat ini.
Melalui segala peristiwa, suka dan duka, keberhasilan maupun kegagalan, kelimpahan maupun kelurangan, Tuhan selalu bekerja membentuk dan memurnikan hati dan pikiran kita, supaya pada saatnya, kita boleh dilayakkan masuk ke dalam kebahagiaan kekal (Roma 8:28).
Dengan percaya penuh kepada kasih Allah, kita dapat selalu bersyukur dan mau mengikuti perintah-perintah dan kehendak Allah.
Kita bersyukur bukan terutama karena pemberianNya tetapi karena kasihNya.
Dia selalu mengasihi walau kita punya banyak kekurangan, mudah goyah saat menghadapi godaan dan begitu sering mengeluh dan menggerutu.
Padahal dengan selalu bersyukur dan percaya penuh akan kasihNya kita akan mengalami kebahagiaan dan kedamaian di dalam kehidupan saat ini:
‘Semuanya itu (ajaran-ajaran dan keteladananNya) Kukatakan kepadamu, supaya suka citaKu ada di dalam kamu dan suka citamu menjadi penuh’ (Yohanes 15:10).
Lihat juga: Menjadi Murid Kristus
Lihat juga: Tidak Ada yang dapat Memisahkan Kasih Kristus kepada Kita
Setelah Kristus naik ke surga, Petrus yang ditunjuk sendiri oleh Kristus untuk menjadi gembala utama penggantiNya, berinisiatif mengangkat salah satu murid Kristus untuk menjadi rasul menggantikan Yudas Iskariot, sehingga jumlah mereka genap 12 orang lagi, sebagai simbol segala suku bangsa Yahudi. Usulan itu dapat diterima oleh semua murid yang lain.
Yang dijadikan dasar untuk memilih siapa yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi rasul adalah: orang yang selalu berkumpul dengan para rasul selama Kristus ada bersama mereka.
Dari saat Kristus dibaptis oleh Yohanes di sungai Jordan, sampai saat Kristus naik ke surga (Kisah Para Rasul 1:21-22). Ini berarti orang yang akan dipilih itu telah mengikuti dan melihat sendiri bagaimana ketika Kristus dipuja dan dipuji banyak orang, sampai ketika Dia dikhianati, difitnah dan dibunuh dengan sangat keji.
Orang ini juga harus merupakan salah satu dari saksi kebangkitan Kristus. Seseorang yang tetap setia di dalam suka duka di dalam jangka waktu yang relatif panjang, menunjukkan komitment kasihnya yang kuat.
Dasar pemilihan bukanlah prestasi atau asal usul orang tersebut tetapi komitmen dan kesetiaannya kepada Kristus.
Setelah memilih beberapa orang yang memenuhi prasyarat yang ditentukan, para murid Kristus berdoa memohon petunjuk Allah, sama seperti yang dilakukan Kristus ketika Dia mau memilih ke 12 rasul, di mana Dia berdoa semalam suntuk di atas bukit. Akhirnya yang terpilih menjadi rasul adalah Matias.
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Lihat juga: Menjadi Saksi Kristus
Kristus menghendaki kita menuruti perintah-perintahNya. Tetapi Dia tidak ingin kita taat seperti seorang hamba yang taat kepada perintah tuannya karena takut dihukum.
Di dalam ketaatan seperti ini tidak akan ada kebahagiaan. Kristus dengan tegas mengatakan bahwa Dia telah menjadikan kita sebagai sahabat-sahabatNya:
‘Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitrahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu’.
Kristus telah memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh suka cita penuh di dalam kehidupan saat ini maupun dikeabadian.
Dia telah mengajarkan dan memberi contoh ketaatan dan komitmen sebagai wujud kasih kepada Bapa.
Dia juga memerintahkan agar kita saling mengasihi sebagai wujud kasih kepada Allah, bukan untuk menerima imbalan atau karena takut dihukum.
Semoga semakin hari kita semakin mempunyai komitmen yang kuat untuk melakukan segala yang telah diajarkan Kristus kepada kita.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat
Lihat juga: Membawa yang Lumpuh ke Hadapan Kristus
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












