Roma 6:19-23
Lukas 12:49-53
Shalom,
Kristus mengatakan Dia datang untuk melemparkan api ke bumi dan berharap api itu selalu menyala.
Ada banyak arti simbolis api di dalam Alkitab, sehingga perlu dimengerti dulu maksud api yang mana yang dimaksud Kristus dalam pengajaranNya saat itu, agar dapat menemukan maksud Kristus yang sesungguhnya.
Api dapat diartikan sebagai sarana untuk memurnikan, seperti bijih emas yang harus dimurnikan dari segala kotoran yang melekat dengan panasnya api.
Api juga digunakan sebagai sarana untuk membentuk benda metal yang keras seperti besi yang harus dipanaskan kalau ingin dibentuk.
Selain itu, api dapat dipakai sebagai simbol penampakan Allah, seperti yang dilihat nabi Musa saat Allah pertama kali memanggilnya (Keluaran 3:2).
Dari berbagai pemahaman tentang arti simbolis api, yang dimaksud Kristus dalam pernyataannya kali ini, adalah api sebagai sarana untuk memurnikan, seperti emas yang mau dipisahkan dari kotoran-kotoran yang melekat padanya.
Lihat juga: Tanggapi Greysia-Aprilia akan Masuk Neraka, Pastor Kopong: Surga Tak Semurah Simbol
Dalam hal ini, Kristus mau mengatakan ajaran-ajaranNya akan menelanjangi segala bentuk kemunafikan yang sering dilakukan orang-orang Farisi dan memurnikan maksud Allah dalam FirmanNya dari penafsiran-penafsiran yang salah.
Dia akan memurnikan kembali iman kepercayaan kepada Allah sehingga orang yang telah dimurnikan menjadi bercahaya indah karena kasih terpancar dari dalam dirinya.
Tetapi seperti bijih emas yang harus ‘menderita’ karena dipanaskan di dalam api, proses pemurnian diri, pasti membuat ketidaknyamanan bahkan kesakitan untuk sementara waktu.
Api yang dilemparkan Kristus kepada kita dalam hal ini dapat berupa sakit penyakit yang serius, kegagalan yang menyakitkan, penolakan saat kita berbelas kasih atau mewartakan Injil.
Kristus memang sangat mengasihi kita. Di dalam kasih, Dia tidak ingin kita menderita.
Namun proses pemurnian yang menyakitkan ini adalah satu-satunya jalan agar kita yang telah banyak dikotori oleh dosa, dapat luput dari penderitaan yang lebih dahsyat dan bersifat kekal.
Lihat juga: Menyadari Tujuan Hidup Kekal
Lihat juga: Berjaga-jagalah agar Tidak Jatuh ke dalam Dosa
Dalam hal ini Santo Paulus menulis: ‘Buah apakah yang kamu petik dari padanya (dengan berbuat dosa)? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu akan beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita’ (Roma 6:21-23).
Dalam kesempatan yang lain, proses pemurnian yang menyakitkan ini digambarkan Paulus seperti sakit yang harus dialami seorang ibu saat akan melahirkan: suatu kesakitan yang hebat tetapi relatif tidak lama, yang akan mendatangkan suka cita besar untuk waktu yang lama (Roma 8:22).
Meskipun akan memberi hasil yang baik, dalam hal proses pemurnian inilah terjadi perbedaan.
Ada orang yang sama sekali menolak dimurnikan karena sudah merasa nyaman dengan hidupnya saat ini yang dikuasai nafsu-nafsu kedagingan.
Ada yang semula menyambut baik, tetapi dalam proses, patah harapan sehingga kembali kekehidupan lama.
Tetapi ada juga orang-orang yang mau bertekun karena mengerti bahwa ‘upah’ yang akan didapat, jauh melebihi segala penderitaan yang harus dijalani.
Karena itu Kristus mengatakan bahwa dengan api yang dilemparkanNya itu, Dia membawa pertentangan, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan di mana kita beraktivitas sehari-hari.
Lihat juga: Roh Kudus Memperbarui Hidup Kita
Api yang dilemparkan Kristus juga dapat diartikan sebagai simbol Roh Kudus yang akan memperbarui cara berpikir dan sikap hati kita sehingga dapat semakin menjadi seperti DiriNya.
Roh Kudus akan dianugerahkan setelah Kristus menebus dosa kita dengan kematianNya.
‘Aku harus dibaptis dengan suatu baptisan dan betapa susah hatiKu, sebelum hal itu terlaksana’.
Baptis berasal dari kata baptism (tenggelam). Ditenggelamkan dapat diartikan juga sebagai dikubur yang melambangkan kematian.
Roh Kudus akan dianugerahkan Tuhan kepada murid-murid Kristus setelah Dia wafat, bangkit dan naik ke surga.
Kristus sangat merindukan situasi kondisi di mana para rasulNya, dengan kuasa Roh Kudus dapat benar-benar memahami Siapa Dia dan arti segala pengajaran-pengajaranNya selama ini.
Kerinduan ini yang Dia katakan sebagai: ‘Betapa susah hatiKu sebelum hal itu terlaksana’.
Tetapi di sisi lain sebelum itu terjadi, Dia harus melewati penderitaan dan kematian yang mengerikan.
Lihat juga: Sikap Hati dalam Berdoa
Lihat juga: Dikuduskanlah NamaMu, Datanglah KerajaanMu
Kristus telah melemparkan api ke bumi. Dia telah mengajarkan dan memberi keteladanan tentang kekudusan, ketaatan kepada kehendak Allah dan kasih yang tulus kepada sesama yang akan memberi kedamaian dan kebahagiaan.
Setelah Dia kembali bersatu dengan Bapa di surga, Kristus juga menganugerahkan Roh Kudus untuk membimbing dan meneguhkan kita untuk mau melakukannya.
Api yang dilemparkan Kristus itu telah menyala. Tinggal bagaimana usaha kita untuk mempertahankan agar api itu tidak pernah padam lagi.
Proses pemurnian diri dan pertobatan adalah proses seumur hidup.
Semakin kita mendekat kepada Allah, semakin kita sadar betapa banyaknya dosa dan kelalaian-kelalaian kita, karena itu berhati-hatilah kalau kita justru merasa diri tidak punya dosa atau sudah hidup dalam kebenaran Firman.
Kesombongan rohani inilah yang dipakai iblis untuk memadamkan api pemurnian yang dilemparkan Kristus.
Selagi Tuhan masih memberi kesempatan untuk hidup di dunia ini, mari kita bersama-sama saling menolong dan mengingatkan untuk terus berusaha membiarkan api pemurnian Roh Kudus selalu bekerja di dalam diri kita.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Roh Kudus Memampukan Kita Mengenal Allah
Lihat juga: Tuhan Setia Mengirim Pertolongan
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












