Yesaya 11:1-10
Lukas 10:21-24
Shalom,
Setelah menyelesaikan tugasnya, ke 70 murid Kristus yang pertama kali diutus untuk mewartakan Injil, kembali menemui Kristus dengan gembira karena mereka mengalami sendiri bagaimana di dalam kuasa Kristus, mereka berhasil mengusir roh-roh jahat dari orang-orang yang kerasukan setan yang mereka jumpai (Lukas 10:12).
Mendengar laporan itu, Kristus pun bergembira dan bersyukur kepada BapaNya.
Para murid yang Dia utus adalah orang-orang kecil, orang-orang biasa yang bukan ahli-ahli Taurat atau orang-orang terdidik yang cerdik pandai, tetapi karena mereka mau mendengar dan percaya akan ajaran-ajaranNya maka mereka memperoleh berkat Tuhan yang membuat mereka sungguh mengalami kuasa Allah.
Karena itu Kristus berkata: ‘Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu’.
Lihat juga: Wartakanlah Injil dengan Kasih
Lihat juga: Jangan Takut untuk Diutus
Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi merasa telah mengenal Tuhan dan tahu apa kehendak Yahwe karena banyak menghafal ayat-ayat dari kitab Taurat dan kitab para hakim.
Mereka menolak Kristus karena Dia memberi pengertian-pengertian yang berbeda dengan apa yang mereka yakini selama ini dan karena Yesus hanya seorang Anak tukang kayu dari Nazaret.
Penolakan mereka bahkan akan menjadi penyebab kematianNya.
Firman Tuhan diwartakan kepada semua orang tanpa kecuali tetapi kebenaran Firman tidak dapat dilihat (tersembunyi) oleh orang-orang yang angkuh dan menyimpan kesombongan rohani.
Orang-orang yang merasa diri cerdik pandai cenderung untuk membentuk Allah seperti yang mereka pikir sedangkan orang-orang yang rendah hari, rela dibentuk Allah sesuai kehendakNya.
Di dalam kepasrahan akan rancangan Allah kita dapat melihat kesempurnaan rencana Allah dan mau mensyukurinya sehingga damai sejahtera ada dalam diri kita dan kitapun dimampukan membagi kebahagiaan itu kepada banyak orang di sekitar kita.
Di dalam kasih, Tuhan kadang memang membiarkan kita menemui hal-hal yang diawal terlihat sulit dan pahit.
Tetapi di balik itu Dia telah mempersiapkan damai sejahtera yang melampaui akal budi kita sebagai manusia (Filipus 4:7).
Kristus kemudian berkata: ‘Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat’.
Kebahagiaan para murid bukan terutama karena mereka dapat melihat pribadi Kristus dengan mata mereka tetapi karena mereka dapat melihat kemuliaan Allah dan mendengar kebijaksanaan-kebijaksanaanNya yang membawa damai.
Saat ini kitapun dapat menjadi orang berbahagia kalau dengan hikmat Allah dapat melihat kemuliaan Allah dalam aktivitas sehari-hari dan dimampukan menjadi pelaku-pelaku Firman yang taat dan setia.
Lihat juga: Mendengarkan Firman dan Pelayanan
Lihat juga: Dikuduskanlah NamaMu, Datanglah KerajaanMu
Nabi Yesaya yang lahir dan berkarya 7 abad sebelum Kristus datang ke dunia, telah bernubuat bahwa seorang Mesias yang berasal dari keturunan Daud (tunas dari tunggul Isai, nama ayah Daud) akan membawa kebahagiaan dan kedamaian untuk semua manusia.
Semua yang percaya kepadaNya akan mengalami damai dan membawa damai itu kepada orang-orang di sekitarnya.
Kedamaian ini digambarkan Yesaya dengan ungkapan penuh makna:
‘Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama dan seorang anak kecil akan menggiringnya’ (Yesaya 11:6).
Kedamaian ini tercipta karena serigala dan macan tutul tidak menggunakan kekuatannya untuk memangsa domba dan kambing, sedangkan domba dan kambing tidak terus menerus curiga dan kawatir akan diperlakukan buruk.
Kedamaian akan tercipta kalau kita sebagai murid-murid Kristus tidak menggunakan kelebihan-kelebihan yang dianugerahkan Tuhan untuk menghina, menindas, menyombongkan diri dan memperdaya mereka yang lebih lemah atau yang sedang lengah.
Sebaliknya kalau kita sedang lemah, dengan rasa syukur mau menerima uluran tangan Allah melalui orang-orang di sekitar kita, tanpa curiga.
Kedamaian seperti ini tidak dianugerahkan Tuhan begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan pengorbanan diri.
‘Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya sama-sama berbaring sedang singa makan jerami seperti lembu’ (Yesaya 11:7).
Beruang bukan pemakan rumput tetapi demi kedamaian dia mau berkorban.
Demikian juga singa tidak suka jerami tetapi dia rela mengorbankan apa yang dia suka untuk dapat bersahabat dengan lembu.
Kalau kita sungguh merindukan kedamaian maka setiap kita juga harus mau mengendalikan cinta diri dan nafsu-nafsu kedagingan.
Lihat juga: Melakukan yang Harus Dilakukan
Lihat juga: Yesus Utuslah Aku Menjadi Jala-Mu
Saat ini kita berada dalam masa Advent.
Kita menantikan kedatangan Kristus yang kedua kalinya sambil mensyukuri kedatanganNya di Bethlehem 2000 tahun yang lalu.
Dia adalah Raja Damai yang dinubuatkan nabi Yesaya.
Pada saat kedatanganNya yang kedua, Dia akan mengadili setiap orang dengan tegas, apakah dalam peziarahan hidup di dunia ini kita telah menjadi pembawa damai bagi banyak orang, atau sebaliknya kita menjadi sumber pertentangan, menimbulkan luka dan kesedihan bagi orang lain karena sikap arogan dan cinta diri.
Kristus telah mengajarkan dan memberi teladan, apa yang harus kita lakukan agar damai sejahtera ada di dalam diri kita.
Tetapi pada akhirnya segalanya tergantung kepada keputusan diri kita sendiri.
Apakah mau bersikap sebagai orang yang merasa diri bijak dan pandai sehingga tidak mau percaya akan ajaran-ajaranNya dan lebih percaya dengan keinginan diri sendiri, ataukah kita mau mengambil sikap seperti seorang anak kecil yang dengan rendah hati mau mengikuti bimbingan Bapanya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mengikuti Bimbingan Allah
Lihat juga: Tetaplah Percaya Kebijaksanaan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












