Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

“Iman membutuhkan Pengetahuan yang reflektif, kritis dan sistematis.”

Berbicara tentang iman harus berangkat dari sebuah refleksi teologis yang reflektif dan sistematis dan bukan sekedar tafsir teks menurut pandangan dan pendapat pribadi. Sebuah refleksi teologis yang sistematis selalu berpijak pada konteks bukan sekedar teks. Karena kalau sekedar teks maka hasilnya adalah saling klaim dan memfitnah. Dan konteks itu tidak hanya berbicara masa lampau, melainkan hari ini dan masa depan. Demikian juga saat membaca teks Kitab Suci.

Kitab Suci bukan sebuah buku sejarah atau perpustakaan melainkan tulisan-tulisan suci yang ketika membaca dan menafsirkan dibutuhkan refleksi bukan sekedar penjelasan akal atau logika. Maka dari itu dalam setiap pendidikan Katolik terutama untuk para calon imam selalu diawali dengan kuliah Filsafat yang dari Filsafat kita bisa memahami tidak hanya pengetahuan yang didapat melainkan juga konsep mereka akan yang transenden, termasuk pemahaman tentang manusia dihadapan yang transenden dan sesama manusia serta makhluk ciptaan lain.

Maka dalam Filsafat tidak hanya dipelajari soal pengantar Filsafat semata atau Filsafat Yunani saja melainkan juga Filsafat Islam, Filsafat Timur, Filsafat Ketuhanan, Kosmologi, Epistemologil, Sosiologi, Anthropologi dan lainnya. Prinsip dasar dari mempelajari semuanya ini adalah agar kita bisa membuat sebuah refleksi Teologis yang sistematis dari sisi Katolik yang dalam kenyataannya juga jauh sebelum agama Katolik hadir apalagi Protestan manusia sudah memiliki kepercayaan terhadap apa yang disebut transenden yang belum memiliki nama namun menggetarkan dan mengagumkan (fascinosum et tremendum).

Lihat juga: Apa Betul Romo Tuan Kopong MSF Sudah Mualaf???

Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Kelompok Katolik yang Persalahkan Konsili Vatikan II Hanya Jadi Pemecah Belah

Filsafat membantu untuk membangun kerangka refleksi Teologis yang sistematis yang dimulai dengan Pengantar Teologi, Kristologi yang menjadi pusat dari seluruh refleksi teologis, soteriologi, pneumatologi, Kitab Suci yang kemudian membawa pada refleksi terhadap tokoh-tokoh penting yang menjadi “rekan kerja” Allah di dalam mewujudkan karya keselamatan-Nya di dunia seperti Bunda Maria yang dalam refleksi teologis dikenal dengan sebutan Mariologi.

Kerangka refleksi teologis ini dimaksud untuk membantu mereka yang sebelumnya menyembah kayu, batu dan patung dewa dewi yang dalam keyakinan atau kepercayaan mereka ada kekuatan transenden dihadirkan ole Gereja dalam bentuk pribadi manusia seperti Bunda Maria, serta Santo Santa. Seperti dalam keyakinan dan kepercayaan masyarakat sebelum adanya agama “modern” yang berdoa pada kayu, batu dan patung dewa dewi bukan karena meyakini kekuatan kayu, batu dan patung melainkan karena kepercayaan bahwa di dalam batu, kayu dan patung dewa demi ada kekuatan tak terbatas yang disebut transenden itu hadir.

Maka penghormatan pada Bunda Maria yang dihadirkan oleh Gereja melalui patung atau gambar Bunda Maria bukan karena Maria memiliki kekuatan yang setara dengan Allah melainkan karena di dalam diri Maria kita bisa mengalami kebijkasanaan dan kekuatan serta kuasa Allah. Bahwa kemudian pribadi Maria dihadirkan dalam bentuk patung atau gambar itu sebagai jalan untuk membawa umat yang sudah mengimani Kristus bahwa bukan lagi kayu, batu dan patung dewa dewi yang dihormati melainkan seorang pribadi manusia yang di dalam diri dan kehidupannya Allah menunjukkan kuasa dan kehendak-Nya.

Lihat juga: Pastor Kopong MSF Tetap Menjadi Seorang Kristen Katolik Terlepas dari Luka-luka Gereja

Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Larangan Ucapan Natal Semakin Bermakna di Betlehem Indonesia

Hal ini juga bisa dilihat dari praktek keagamaan saudara-saudari kita umat Hindu, Buddha dan Konghuchu yang juga memiliki patung seperti misalnya Buddha yang nampak pada Candi Borobudur, Prambanan (Hindu) atau Klenteng (Konghuchu) yang kental dengan nilai-nilai filosofis dab teologisnya. Apakah kemudian saudara-saudari kita umat Buddha, Hindu dan Konghuchu menyembah patung? Tidak! Mereka menghadirkan sosok yang mereka Imani dalam sebuah ekspresi iman berupa patung sebagai sebuah penghormatan kepada yang mereka hargai dan teladani.

Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

Tidak! Apakah berdoa di depan patung atau gambar Bunda Maria merupakan penyembahan berhala? Tidak! Hidup manusia selalu dikelilingi oleh yang namanya simbol yang dalam bahasa filsafat agama sendiri disebut sebagai fenomenologi budaya dan budaya sebagai fenomenologi agama yang artinya bahwa keyakinan dalam masyarakat yang belum mengenal yang namanya Tuhan menjadi jalan bagi Gereja untuk memperkenalkan Tuhan sebagai yang Transenden.

Lihat juga: Bunda Maria Diangkat ke Surga

Lihat juga: Bunda Maria Bunda Gereja

Arti Teologi hadir untuk memurnikan praktek kepercayaan mereka yang sudah ada menjadi sebuah ungkapan iman. Dan disinilah letak kelemahan oknum Pendeta Protestan yang hanya mengandalkan konsep Alkitabiah tanpa melihat konteks sehingga pengajaran mereka hanya menjadi sebuah pengajaran teks yang dengan mudah menghakimi dan bukan iman yang dilihat dari buahnya (lih. Mat 7:15-20; 1Yoh 4:1). Dari kedua teks Kitab Suci ini sebenarnya Protestan bisa memahami bahwa devosi kepada Bunda Maria adalah karya Roh karena buahnya nyata bahwa Gereja Katolik tidak terpecah-pecah menjadi aneka denominasi seperti Protestan.

Dari sini menjadi jelas bahwa berdoa di depan patung atau gambar Bunda Maria adalah ungkapan iman kepada Kristus dan bukan melawan Kristus karena yang diimani adalah Kristus yang adalah Allah membawa doa kita bersama Bunda Maria kepada Bapa-Nya dan Bunda Maria hanya menjadi Ibu yang berjalan, berziarah bersama dalam doa.

Maka kalau hari-hari ini Protestan terus menyerang Gereja Katolik dengan tuduhan menyembah berhala karena berdoa di depan patung atau gambar Bunda Maria bisa dipahami bahwa dasar pemamahan mereka bukan didasarkan pada Filsafat Dan Teologi Sistematis melainkan hanya teks.

Kandangan (Kalsel); 11 Januari 2026

Tuan Kopong MSF

Judul aslinya: Tanpa Filsafat Dan Teologi, Iman Hanya Jadi Jualan Teks!!

Lihat juga: Pastor Kopong: Penista Agama dari “Mayoritas” Cukup Minta Maaf dan Meterai Selesai Kasusnya, Kalau “Minoritas” Tidak Berlaku!

Lihat juga: Pastor Kopong MSF: Pernyataan Joseph Paul Zhang Tidak Mewakili Umat Katolik-Protestan dan Etnis Tertentu, Setop Provokasi!


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Persembahan untuk Tuhan

    Apakah persembahan hanya sekadar uang? Apa yang telah saya persembahkan untuk Tuhan? Bagaimana sebaiknya persembahan untuk Tuhan? Berikut rekaman audio dan teks pada kegiatan pelayanan Komunitas Efata di Gereja Bethesda,

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Proficiat, Takhta Suci Mengumumkan Uskup Baru Larantuka: Pastor Yohanes Hans Monteiro Pada hari ini, Sabtu, 22 November 2025, tepat pukul 12.00 waktu Roma—yang bertepatan dengan 17.00 WIB atau 18.00 WITA—secara

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Kardinal Suharyo Ajak Umat Katolik Jadi Manusia Paskah

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading