Yesaya 66:10-14C
Galatia 6:14-18
Lukas 10:1-9
Shalom,
Setelah sebelumnya Kristus memanggil, memberi kuasa dan mengutus ke 12 rasul untuk mulai mewartakan Injil, maka tahap berikutnya Kristus memanggil dan mengutus 70 murid lainnya.
Jumlah 12 orang untuk para rasul melambangkan ke 12 suku Israel. Ini menunjukkan Injil memang pertama-tama dikehendaki Allah diwartakan untuk bangsa Israel.
Sedangkan jumlah 70 adalah jumlah suku bangsa yang ada di dunia setelah air bah menghancurkan dunia dengan segala isnya (Kejadian 10:1-32).
Hal ini menunjukkan bahwa Injil harus diwartakan juga kepada semua orang, semua bangsa, meski dalam pelaksanaannya pewartaan Injil kepada bangsa-bangsa lain baru dilakukan setelah Pentakosta.
Diawali oleh Santo Petrus, kemudian oleh Santo Paulus yang khusus ditugaskam Kristus sendiri untuk itu.
Awalnya orang-orang Yahudi sangat menentang Injil diwartakan kepada bangsa-bangsa lain tetapi Paulus mengatakan:
‘Sebab bersunat atau tidak bersunat (artinya bangsa Yahudi atau bukan) tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru (mau bertobat dan berubah) itulah yang ada artinya (Galatia 6:15 ).
Pewartaan Injil harus disampaikan kepada semua orang agar kedamaian dan kebahagiaan baik di dunia saat ini maupun di alam baka dapat dinikmati setiap orang sebagai rahmat kasih Allah yang dahsyat (Galatia 5:16).
Dengan begitu Firman Allah yang disampaikan melalui nabi Yesaya dapat digenapi:
‘Sesungguhnya Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir, kamu akan menyusu, digendong, dibelai-belai di pangkuan’ (Yesaya 66:12).
Lihat juga: Menyimpan Firman dalam Hati
Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat
Para murid diutus berdua-dua karena menurut hukum Taurat, atas suatu perkara, minimal ada dua saksi baru hal itu tidak di ragukan kebenarannya (Ulangan 19:15).
Selain itu dengan berdua mereka dapat saling mengingatkan, meneguhkan dan tetap rendah hati, tidak dapat menganggap pewartaan yang dilakukan di suatu tempat sebagai hasil karya dia pribadi.
Kristus mengatakan, Dia mengutus murid-muridNya seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
Semua orang tahu bahwa anak domba adalah makanan yang paling disukai serigala.
Dalam hal ini Kristus ingin mengingatkan bahwa Injil harus diwartakan dengan kuasa Allah dan kepercayaan penuh akan kasih Tuhan.
Kalau hanya mengandalkan kemampuan sendiri, sudah pasti gagal dan malahan sangat mungkin murid itu sendiri yamg akan terpengaruh oleh orang-orang duniawi.
Hanya dengan kuasa Tuhan, penginjilan akan berhasil karena di dalam kuasaNya tidak ada yang mustahil.
Karena itulah dalam setiap pewartaan Injil, semua murid Kristus harus berdoa terlebih dahulu: memohon kekuatan agar tidak tersesat, agar segala yang disampaikan/dilakukan sesuai dengan kehendak Tuhan dan agar Roh Kudus bekerja untuk melembutkan hati orang yang akan diwartakan, sehingga menjadi seperti tanah yang subur.
Lihat juga: Roh Kudus Memperbarui Hidup Kita
Lihat juga: Roh Kudus Memampukan Kita Mengenal Allah
Kristus melarang mereka membawa pundi-pundi atau bekal lainnya, serta jangan memberi salam di jalan.
Penginjilan harus merupakan prioritas utama dan perlu dilakukan dengan segera dan penuh konsentrasi.
Jangan membuang waktu bercakap-cakap di tengah jalan.
Dalam tradisi Yahudi, bersalaman di jalan bisa memakan waktu relatif lama karena penuh tata kerama.
Janganlah memecah konsentrasi untuk sarana perlengkapan. Dengan tidak membawa bekal, murid-murid juga belajar untuk berserah kepada Tuhan.
Mereka perlu mengalami sendiri kasih dan kuasa Allah sebelum mewartakannya kepada banyak orang.
Kristus juga mengingtakan kalau di tempat pewartaan mereka telah diterima di suatu rumah, jangan berpindah-pindah.
Hal ini untuk menghindari mereka mencari tempat-tempat yang lebih nyaman, yang malahan bisa membuat ketersinggungan.
Kenyamanan bukan terutama terletak dari sarana yang ada tetapi dari yang ada di dalam hati kita
Lihat juga: Kacamata Paus Fransiskus Soroti Hati yang Bertelinga
Lihat juga: Pastor Kopong Malu, Sedih, Prihatin Ada Oknum Katolik “Menjual” Ayat Alkitab untuk “Membela” Israel
Tugas pewartaan Injil jangan diartikan hanya sebatas untuk para murid tertentu atau kalau di saat ini, hanya untuk para imam, biarawan/biarawati.
Pewartaan Injil menjadi konsekwensi yang melekat dari pembaptisan.
Semua kita diutus untuk mewartakan Injil, meskipun untuk suatu pewartaan dari mimbar-mimbar persekutuan doa yang didengar banyak orang, harus ada suatu ketentuan dan perutusan khusus.
Mewartakan Injil adalah menyampaikan ajaran kasih Kristus, bukan hanya dalam pengertian mengajarkan apa yamg tertulis di dalam Alkitab saja.
Menolong orang yang sedang berbeban, mengampuni yang bersalah dan memperhatikan orang-orang yang tersisih adalah juga bentuk penginjilan, karena kita menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia.
Dengan demikian semua orang dapat mengalami bahwa Allah yang Maha Kasih senantiasa ada di dekat mereka sehingga memberi ketenangan di dalam hati, sama seperti seorang anak kecil yang akan merasa tenang bila melihat ada orangtuanya di dekat dia:
‘Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu’ (Yesaya 66:13).
Lihat juga: Mujizat Kasih
Lihat juga: Kasih Mengatasi Badai
Kristus memerintahkan agar kita semua ‘pergi’ mewartakan Injil. Jadi jangan hanya ‘menanti’.
Jangan menanti orang meminta pertolongan baru tergerak membantu.
Jangan menunggu orang meminta maaf baru mau mengam puni.
Kristus meminta kita proaktif.
Begitu juga, jangan sebatas berdoa meminta Tuhan mengutus lebih banyak lagi pekerja-pekerja tuaian tetapi bukalah diri dan mintalah agar Tuhan memampukan kita untuk memjadi pekerja tuaianNya yang giat, bersemangat dan gembira.
Marilah kita sadari bahwa setiap oang yang telah dibaptis, yang telah dilayakkan memanggil Allah dengan panggilan mesra; ‘Bapa’, dipanggil Kristus untuk bekerja di ladangnya.
Marilah menyambut panggilan itu dengan hati terbuka agar pada saat musim panen tiba, pada waktu Penghakiman terjadi, kitapun boleh dilayakkan berbahagia bersama Bapa, Pemilik ladang dan segala tuaian.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mengampuni, Diampuni Allah Bapa
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












