Kejadian 27:1-5, 15-29
Matius 9:14-17
Shalom,
Dalam kitab Taurat, berpuasa ditujukan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan atau sebagai wujud penyesalan atas dosa yang telah dilakukan.
Hukum Taurat mewajibkan semua orang untuk berpuasa satu hari dalam satu tahun, di hari Pendamaian (Imamat 16:29-30), untuk memperbaiki relasi dengan Allah yang telah rusak karena dosa.
Dalam perkem bangannya orang-orang Farisi membiasakan diri berpuasa setiap hari Senin dan Kamis.
Kebiasaan ini mereka ajarkan kepada semua orang secara turun temurun sebagai suatu tradisi.
Ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi melihat murid Kristus tidak berpuasa sesuai tradisi, mereka tergerak menanyakan ini kepada Kristus.
Saat menjawab pertanyaan itulah, Kristus menyampaikan tentang tujuan berpuasa yang sebenarnya seperti yang dikehendaki Allah.
Lihat juga: Berpuasa untuk Berubah
Lihat juga: Berpuasa untuk Memperbaiki Relasi dengan Allah
Berpuasa adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin memahami apa yang dikehendakiNya dan dimampukan melaksanakan kehendakNya.
Di awal karya penyelamatanNya, atas bimbingan Roh Kudus, Kristus berpuasa 40 hari 40 malam di padang gurun yang ganas (Matius 4:1-2).
Saat menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes Pembaptis, Kristus meluruskan pemahaman dan tujuan berpuasa: berpuasa bukan suatu usaha agar yang kita inginkan didengar Tuhan tetapi suatu usaha untuk mendengarkan kehendak Tuhan dengan jernih dan memohon kekuatan agar mampu melakukan apa yang dikehendakiNya.
Pemahaman ini penting, karena apa yang kita inginkan belum tentu berakibat baik untuk kita.
Jangan memaksakan keinginan untuk diberikan Tuhan, karena di dalam kasihNya Allah tidak mau memberikan sesuatu yang akan berakibat buruk, hanya untuk memberi kesenangan sesaat.
Pengertian ini penting agar jangan sampai iman kita malahan runtuh dan lalu menjauh dariNya ketika telah terus berpuasa tetapi tidak juga mendapatkan apa yang kita mau.
Ini dapat berakibat seperti menambalkan secarik kain yang belum susut (yang masih bagus) pada baju tua yang telah lapuk.
Suatu perbuatan yang baik, tetapi karena dipakai secara keliru malahan memperburuk keadaan.
Dalam hal berpuasa dengan tujuan yang keliru, dapat membuat relasi kita dengan Tuhan malah menjadi semakin jauh.
Lihat juga: Berpuasa untuk Mendengarkan Kehendak Tuhan
Lihat juga: Sembunyiin Kalo Lagi Puasa dan Ngepantang!
Ketika Ishak sudah tua dan matanya sudah buta, dia ingin memberi berkat sulung kepada anak sulungnya, Esau, sebagai mana tradisi orang Yahudi saat itu.
Tetapi Ribka, istrinya teringat akan Firman Tuhan kepadanya saat ia hamil: ‘anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda’ (Kejadian 25:23).
Karena itu dia mau berkat itu jatuh kepada Yakub.
Khawatir Ishak tidak setuju, diam-diam dia mengatur cara supaya Ishak terpedaya, mengira Yakub sebagai Esau dan memberikan berkat anak sulungnya kepada Yakub.
Rencana itu berjalan dengan baik, dalam pengertian berkat sulung itu akhirnya diterima oleh Yakub.
Tetapi meskipun yang dikehendaki Ribka terjadi, akibatnya menjadi fatal bagi keluarganya.
Ketika tahu bahwa Yakub telah memperdaya ayahnya untuk mencuri berkat sulung, Esau sangat marah dan berniat membunuh Yakub.
Akibatnya Yakub harus melarikan diri jauh dari rumahnya untuk menghindari Esau yang tubuhnya jauh lebih kuat dari dirinya.
Perbuatan Ribka yang ‘cerdik’ malahan membuat dia harus kehilangan Yakub yang sangat dikasihinya.
Lihat juga: Tuhan Memberkati Kita Melalui Orang Lain
Lihat juga: Ngubah Hati Najis Jadi Berkat
Terdorong oleh suatu keinginan, seringkali kita tidak peduli dengan cara.
Yang penting, bagaimana dapat memperoleh apa yang diinginkan.
Salah satu usaha untuk mendapatkan yang diinginkan, adalah dengan berpuasa.
Mempunyai suatu keinginan dan berusaha keras untuk mencapainya, adalah sesuatu yang baik.
Tetapi perlu disadari bahwa apa yangdiinginkan belum tentu akan berakibat baik untuk kita, belum tentu dapat membuat kita bahagia.
Tetapi kalau kita dapat menangkap dan melakukan apa yang diinginkan Allah, kebahagiaan dan kedamaian pasti akan kita alami.
Karena itu suatu kehendak baik harus dicapai dengan cara yang baik juga, cara yang tidak melawan kehendak Firman Allah.
Kita harus mengimani, kalau memang Tuhan berkenan, kita pasti akan dapat memperolehnya tanpa harus melakukan hal-hal yang melawan hukum-hukumNya.
Tetapi kalau Allah tidak berkenan, tentu itu karena Allah memiliki rancangan yang lebih sempurna atau karena Dia tahu keinginan itu akan berakibat buruk.
Tujuan yang baik harus dilaksanakan dengan cara yang baik juga.
Tinggalkan cara berpikir duniawi yang meng-halalkan segala cara untuk memperoleh tujuan.
Berpuasa jangan dijadikan sarana untuk ‘memaksa’ Tuhan mengabulkan keinginan kita, tetapi harus menjadi sarana untuk ‘memaksa’ diri mendengar dan melakukan kehendak Allah.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Memaknai “Tanda” Sesuai Kehendak Tuhan
Lihat juga: Melakukan Kehendak Allah yang Sesungguhnya
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












