Pengkhotbah 1: 2, 2: 21-23
Kolose 3:1-5, 9-11
Lukas 12:13-21
Shalom,
Suatu kali setelah Kristus selesai mengajar, salah seorang pendengarNya meminta Dia untuk menegur saudaranya supaya mau berbagi warisan dengan dia.
Kehidupan masyarakat Yahudi saat itu didasarkan atas hukum Taurat. Di dalam hukum itu telah tercantum bagaimana warisan harus dibagi, antara lain tertulis pada (Bilangan 27:1-11, Ulangan 21:15).
Karena itu kalau terjadi perselisihan di dalam pembagian warisan, orang akan pergi kepara ahli Taurat untuk meminta penjelasan bagaimana yang seharusnya dilakukan sesuai hukum Taurat.
Jadi tidak aneh ada orang yang bertanya kepada Kristus tentang pembagian warisan setelah Dia mengajar.
Kristus menolak turut campur persoalan keluarga ini karena secara formal dia bukan ahli Taurat yang ‘resmi’ sehingga sekalipun Dia memberi suatu keputusan, sulit akan ditaati oleh pihak yang merasa dirugikan.
Tetapi Kristus mengajarkan tentang kenapa begitu banyak terjadi perselisihan dalam pembagian warisan. Dasar dari segalanya adalah ketamakan akan harta.
Banyak orang rela kehilangan relasi persaudaraan demi mendapatkan uang yang sesungguhnya bukan hasil usaha mereka sendiri.
Banyak orang berpikir bahwa dengan banyaknya harta yang dimiliki dia akan mendapat kebahagiaan, padahal tidak ada jaminan untuk itu. Bahkan hidupnya pun tidak tergantung dari hartanya.
Lihat juga: Keberanian Berkorban untuk Mendapat Harta Terpendam
Lihat juga: Menyadari Tujuan Hidup Kekal
Kristus lalu memberi perumpamaan tentang seorang petani kaya yang mempunyai tanah pertanian yang luas dan subur.
Suatu kali hasil panenan begitu berlimpah sehingga tidak dapat lagi ditampung di lumbung-lumbung yang telah disediakan. Artinya, hasil panenan itu jauh melampaui harapannya.
Maka dia segera membangun lumbung-lumbung yang lebih besar lagi dan sesudah itu dia berpikir dia dapat menikmati kekayaannya dengan bersenang-senang.
Semua yang dia pikirkan itu sebatas untuk dirinya sendiri dan tidak mau menyadari dari mana dia bisa mendapat hasil panennya itu.
Tetapi malam itu Allah berfirman kepadanya bahwa malam itu juga dia akan mati. Petani itu sangat kaget dan bingung.
Dia merasa belum siap, karena selama ini dia tidak pernah berpikir tentang kematian dan bagaimana mempersiapkan diri untuk suatu kehidupan lain setelah kematian di dunia ini.
Dia sangat terpukul ketika Tuhan mengingatkan apa gunanya dia telah menumpuk kekayaannya, karena kenyataannya Dia pasti tidak bisa menikmatinya dan mungkin malahan hanya akan menjadi bahan sengketa anak-anaknya saja.
Lihat juga: Belajar dari Biji Sesawi dan Ragi
Lihat juga: Tidak Mengerti Apa yang Diminta
Hal seperti inilah yang diingatkan Pengkhotbah: ‘Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Sebab kalau ada orang yang berjerih payah dengan hikmat, pengetahuan dan keterampilan, (tetapi) ia harus meninggalkan bagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar’ (Pengkhotbah 1:2, 2:21).
Petani ini memang mendapatkan kekayaannya bukan karena berbuat curang tetapi karena ‘kebetulan’ tanahnya subur. Dalam hal ini Tuhan tidak mempersalahkannya.
Akan tetapi dia telah melalaikan kewajibannya untuk menolong orang lain yang berkekurangan.
Dia ‘membendung’ berkat-berkat Allah hanya untuk dirinya sendiri sehingga melalaikan kesempatan yang dianugerahkan Tuhan untuk mengubah harta duniawi menjadi harta surgawi, yaitu dengan melakukan perbuatan kasih kepada sesama.
Dengan berbuat begitu dia merasa dirinya pandai. Tetapi justru Allah menegurnya dengan mengatakan: ‘Hai, engkau orang bodoh’.
Dalam kitab Mazmur, yang dimaksud orang bodoh adalah orang yang hidup tanpa mau menghiraukan Allah (Mazmur 14:1).
Lihat juga: Saat Harus Memilih
Lihat juga: Mengenakan Kuk Kristus
Agar segala usaha kita untuk mempersiapkan hari tua atau di saat kita tidak mampu bekerja lagi menjadi sia-sia, Santo Paulus mengingatkan kita: ‘Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan (hanya) yang di bumi. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala’ (Kolose 3:2, 5).
Menabung, berinvestasi yang benar, pasti bukan hal yang buruk di hadapan Allah, tetapi janganlah yang lebih penting malahan diabaikan, yaitu berbuat kasih kepada sesama dengan menyalurkan kelebihan yang telah dianugerahkan Tuhan untuk menolong sahabat-sahabat Kristus yang sedang berkesusahan.
Janganlah memanfaatkan segala kelebihan yang dianugerahkan Tuhan untuk memanjakan kedagingan yang melawan Allah.
Kita semua pasti akan dipanggil Tuhan untuk pergi ke alam baka.
Hanya orang bodoh yang meskipun tahu mau pergi ke suatu tempat yang jauh, tetapi tidak menyiapkan bekal yang memadai.
Lihat juga: Diutus untuk Membawa Kedamaian
Petani kaya dalam perumpamaan Kristus, lupa untuk bersyukur kepada Sang Pemberi yang telah memberikan kepadanya hasil yang jauh melebihi perkiraan dan harapan semula, sehingga dia tidak tergerak untuk menyalurkan berkat Allah itu kepada orang-orang yang sedang memerlukan pertolongan, agar merekapun dapat menikmati dan mensyukuri kebaikan Allah.
Ketamakan akan harta sering membuat kita lupa untuk bersyukur dan berbagi.
Ketamakan malah sering membuat orang melupakan persaudaraan dan persahabatan.
Karena itu, agar kita tidak terperangkap di dalam ketamakan yang sia-sia, selalu tanyalah kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan ketika Dia menganugerahkan segala kelebihan dan kenikmatan hidup.
Hanya dengan mau berbuat kasih, berbagi dan bersyukur, hidup kita di dunia ini tidak akan sia-sia.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Kasih yang Menyelamatkan
Lihat juga: Perbuatan Kasih Tidak Ada yang Sia-sia
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












