Yesaya 58:9b-14, Lukas 5:27-32
Shalom,
Lewi adalah seorang pemungut cukai. Tugasnya menagih pajak dari semua orang Yahudi di daerahnya yang sudah mempunyai penghasilan, untuk disetorkan ke pemerintah Roma.
Seorang pemungut cukai tidak mendapat gaji dari pemerintah tetapi dia diperbolehkan menagih pajak lebih besar dari jumlah yang harus disetorkan ke pemerintah.
Lihat juga: PBB Ajak Melawan Neo-Nazi, Xenofobia, Anti-Yahudi
Dari kelebihan itulah mereka memperoleh penghasilannya. Dari peluang ini juga mereka dapat memeras banyak orang dengan perlindungan pemerintah, untuk mendapat kelebihan semaksimal mungkin sehingga dapat memperkaya diri.
Karena itulah para pemungut cukai dibenci oleh masyarakat luas. Mereka juga dianggap pendosa karena mereka bukan hanya bergaul tetapi malah mau bekerja untuk pemerintah Roma yang merupakan ‘bangsa kafir’.
Lihat juga: Yesus Mendidik Orang Berdosa, Bukan Dirajam
Meskipun sadar bahwa menjadi pemungut cukai akan dibenci, dikucilkan dan melawan hukum Taurat, tetapi kenyataannya cukup banyak orang yang mau bekerja sebagai pemungut cukai.
Hal ini karena melalui pekerjaan ini, kemungkinan mendapat banyak uang terbuka lebar.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Kristus melihat Lewi sedang di rumah cukai. Dia memanggil dan mengajaknya untuk menjadi muridNya: ‘Ikutlah Aku’.
Ada kuasa di dalam panggilan Kristus itu, sehingga Lewi menjadi begitu tertarik dan gembira menanggapi panggilan itu.
Lewi rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengikuti Dia.
Lihat juga: Upah Mengikuti Kristus
Lewi lalu membuat perjamuan makan besar di rumahnya sebagai pejamuan perpisahan dengan teman-temannya.
Dalam kejadian ini, sesungguhnya telah terjadi suatu mujizat pertobatan. Seorang pemungut cukai yang biasa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan banyak uang, karena mendengar panggilan Kristus, tertarik untuk berubah mau mengasihi Allah dan sesama.
Lihat juga: Dipanggil untuk Bertobat dan Mempertobatkan
Seperti Lewi, setiap kita yang saat ini menjadi murid-murid Kristus juga pernah mengalami panggilan Kristus dengan cara yang unik karena bukan kita yang memilih Dia tetapi Kristuslah yang memilih dan memanggil kita (Yohanes 15:16).
Akan tetapi apakah kita juga mau bersikap seperti Lewi yang setelah dipanggil Kristus, dengan konsekwen dan konsisten mau mentaati semua ajaran-ajaranNya?
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Mengampuni. Kemudian, Mengampuni Lagi
Apakah kita rela meninggalkan segala berhala, segala nafsu-nafsu kedagingan yang memberi kenikmatan sementara, untuk sungguh-sungguh mengikuti Dia di jalan menuju Rumah Bapa?
Di dalam masa pra Paskah ini, Roh Kristus memanggil kita semua untuk secara khusus bersama-sama memeriksa kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus selama ini, agar kita sadar akan kesalahan-kesalahan yang mungkin telah terbiasa dilakukan dan agar kita mau dengan rendah hati berubah.
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Bergulat dengan Pencobaan
Ada banyak sekali tantangan dan godaan yang harus dihadapi saat kita mau berubah, baik dari dalam diri kita sendiri, dari orang-orang disekitar kita maupun dari tipu daya iblis.
Kita tidak akan sanggup menghadapimya dengan kekuatan sendiri. Kita mutlak membutuhkan kekuatan Ilahi.
Lihat juga: Berpuasa untuk Berubah
Nabi Yesaya, menyampaikan Firman Allah bahwa kalau mau benar-benar berubah, kita perlu berpuasa, banyak berdoa dan bersedekah untuk memupuk kasih yang tulus kepada sesama.
Lakukankah puasa sambil berusaha meninggalkan segala kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering kita lakukan: Tidak lagi mengenakan kuk (untuk) memperalat dan memeras sesama, tidak menunjuk-nunjuk orang dengan jari (memaki-maki, mempermalukan orang lain) dan memfitnah (menyebarkan hal-hal yang buruk tentang orang lain yang tidak jelas kebenarannya). (Yesaya 58: 9b)
Lihat juga: Dalam Sohib Jesus: Gue Bahagia Difitnahin Segala yang Jahat
Sebaliknya berbuatlah lebih banyak dan lebih serius berbuat kasih: ‘Menyerahkan kepada orang lapar apa yang kau inginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas sehingga terangmu akan terbit dalam gelap (di dalam penderitaan orang lain) dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari’ (Yesaya 58:10).
Bukalah hati dan biarkan Tuhan menuntun kita disetiap jalan sehingga selalu dapat bersyukur kepadaNya sekalipun sedang menghadapi situasi kondisi hidup yang sulit.
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Rencana Allah untuk Kita
Kita tetap percaya bahwa dibalik itu semua Tuhan sedang merencanakan sesuatu yang indah yang belum mampu kita lihat saat ini (Yesaya 58:11)
Kristus memanggil Lewi dan Lewi menanggapi panggilan itu dengan gembira dan penuh semangat.
Lewi mengalami perubahan total dari seorang pemeras bangsa dan penista hukum Taurat, menjadi seorang penulis Injil dan pewarta Firman Tuhan yang memberi kebahagiaan dan harapan bagi banyak orang, bahkan sampai akhir zaman.
Lihat juga: Berpuasa untuk Memperbaiki Relasi dengan Allah
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut dan tidak senang ketika Kristus memberi kesempatan Lewi untuk berubah.
Mereka lebih senang menghukum orang yang berdosa untuk menunjukkan wewenang dan kekuasaannya. Tetapi Kristus mengubah orang berdosa bukan dengan hukuman yang keras tetapi dengan kasih dan kerahimanNya.
Lihat juga: Mengasihi Karena Dikasihi Allah
Di dalam masa praPaskah ini Tuhan memberi kesempatan agar kita mau bersama-sama berubah, karena di dalam kebersamaan, kita dapat menjadi lebih tangguh, dapat saling menguatkan dan mengingatkan.
Semoga dengan kerahiman Tuhan, kita semua mau berubah seperti Lewi yang mampu memanfaatkan panggilan Kristus untuk mengubah hati dan cara berpikirnya secara total.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Iri Hati dan Cemburu
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











