Membuka Hati untuk Percaya

Keluaran 3:1-6, 9-12

Matius 11:25-27

Shalom,

Setelah Kristus mengatakan rasa ibanya kepada penduduk di 3 kota Galilea yang tetap mengeraskan hati tidak mau percaya bahwa Dia adalah Mesias, Kristus berkata:

‘Aku bersyukur kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil’.

Kristus tidak bersyukur karena Tuhan membuat perbedaan sikap terhadap orang yang (merasa) bijak dan pandai dengan orang-orang kecil.

Kristus juga tidak bermaksud mengatakan bahwa Dia tidak suka dengan orang-orang yang bijak dan pandai.

Kristus bersyukur karena Dia dapat menerima ketertutupan hati kaum cerdik pandai, seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, sama seperti Dia menerima keterbukaan hati orang-orang kecil dan sederhana seperti para rasul dan murid-murid lain, yang dengan rendah hati membuka diri untuk percaya kepadaNya.

Kristus bersyukur karena baik sikap menutup diri maupun yang membuka hati terhadapNya, sama-sama mempunyai peranan di dalam rancangan keselamatan Allah.

Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia

Lihat juga: Kuasa Panggilan Allah

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat karena telah belajar dan hafal banyak ayat-ayat kitab Taurat, merasa sudah mengerti segala kehendak Allah.

Karena itu mereka tidak mau percaya kepada Kristus, orang Nazaret yang bukan siapa-siapa, yang mengajarkan penafsiran-penafsiran Taurat yang berbeda dengan apa yang mereka tafsirkan selama ini.

Jadi dalam hal ini bukan Allah yamg menutup pintu hati mereka, tapi mereka sendiri dengan kehendak bebas dan akal budinya menutup diri untuk percaya.

Meskipun begitu, penolakan ini tetap dapat dipakai Allah sebagai bagian untuk dapat menjelaskan Firman Allah kepada kita orang-orang sederhana yang mendengar ajaran-ajaran Kristus dan melihat atau malah mengalami mujizat yang Dia kerjakan, percaya bahwa Kristus setidaknya adalah seorang Nabi Besar.

Kelak, pada saat mereka melakukan ajaran-ajaranNya itu, mereka akan menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak terpikirkan sebelumnya, sehingga dapat membuat mereka semakin percaya, meskipun tetap saja ada hal-hal yang tidak mampu dimengerti.

Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat

Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes

Setelah beberapa waktu tinggal di Midian, Musa menikah dengan anak Yitro, seorang imam yang punya banyak ternak domba dan kambing.

Pada suatu hari ketika dia sedang menggembalakan domba-domba mertuanya, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam rupa api yang menyala di semak duri, tetapi anehnya semak durinya tidak terbakar.

Melihat pemandangan yang aneh itu, Musa menghampiri api itu.

Saat dia sudah dekat, Allah memanggil namaNya, memperkenalkan DiriNya dan kemudian mengutus Musa untuk kembali ke Mesir.

Perintah Tuhan ini sungguh tidak masuk akal.

Musa melarikan diri dari Mesir karena mau menghindari hukuman mati dari Firaun karena dia telah membunuh orang Mesir.

Sekarang Tuhan malah meminta dia kembali ke Mesir, menghadap Firaun bukan untuk meminta pengampunan tetapi untuk meminta agar Firaun membebaskan ratusan ribu orang Yahudi dari perbudakan.

Di dalam keheranannya itu Musa mengatakan: ‘Siapakah aku ini maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?’ (Keluaran 3:11).

Tetapi dalam percakapan selanjutnya, Musa percaya bahwa karena Allah yang Maha Kuasa yang menyuruhnya, dia pasti diberi kemampuan.

Musa membuka diri untuk mentaati apa yang dikehendaki Tuhan, meskipun tidak mengerti bagaimana dia dapat melaksanakannya dan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Lihat juga: Mengasihi Tuhan Fondasi Kemanusiaan

Lihat juga: Bertobatlah, Manfaatkan Kerahiman Tuhan

Perintah Allah sering kali kita rasakan sebagai hal yang tidak mungkin dapat dilakukan.

Apa yang dibiarkan Tuhan terjadi pada diri kitapun sering tidak mampu dimengerti.

Karena itu kita sering mengeluh, menggerutu atau mengabaikan perintah itu.

Kalau kita bersikap seperti itu, kita sesungguhnya mengambil sikap yang sama seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang karena merasa lebih tahu apa yang seharusnya terjadi, menutup hati dan pikiran dari kesempurnaan rancangan Allah.

Kekerasan hati seperti ini tidak akan dapat memberi kedamaian dihati.

Sebaliknya kalau dengan kerendahan hati, kita membuka diri untuk percaya kepada Allah, mau taat meskipun tidak mengerti, seperti yang dilakukan Musa dan para rasul Kristus, Allah akan memperlihatkan kesempurnaan rancanganNya yang membawa damai sejahtera.

Karena itu dalam doa-doa permohonan, mari kita ikuti kata-kata yang diajaran Kristus: ‘Jadilah kehendakMu, ya Allahku’.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Menghayati Doa yang Diajarkan Kristus

Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Pendidikan Bernafas Eros

    Pendidikan Bernafas Eros

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading