Yehezkiel 18:21-28, Matius 5:20-26
Shalom,
Kristus mengatakan: ‘Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga’.
Hidup keagamaan adalah melakukan kebenaran-kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Melakukan dalam hal ini bukan hanya sebatas kegiatan jasmani, tetapi yang terpenting justru sikap hati dan cara berpikir kita.
Lihat juga: Memaknai “Tanda” Sesuai Kehendak Tuhan
Para ahli Taurat dengan tekun mempelajari hukum Taurat dan Kitab para nabi. Mereka berusaha mentaati semua yang tertulis di dalamnya dengan teliti dan mengajarkannya kepada banyak orang, tetapi mereka tidak berusaha untuk lebih memahami tujuan dan kehendak Allah di dalam hukum-hukumNya.
Dengan begitu kehidupan keagamaan mereka sebatas melakukan apa yang tertulis tetapi tidak berusaha memiliki sifat-sifat Allah yang penuh kasih yang justru sangat menentukan kelayakan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga yang penuh damai.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Sebagai contoh, Kristus mengambil Firman Allah: ‘Jangan membunuh’ (Keluaran 20:13) Pembunuhan di sini ditafsirkan ahli-ahli Taurat sebatas pembunuhan jasmani.
Kristus dengan wibawaNya sebagai Putera Allah mengatakan, yang dimaksud Allah bukan hanya membunuh secara jasmani tetapi segala hal yang dapat membuat kita berniat untuk melakukan hal-hal jahat untuk mencelakakan orang lain, juga harus dihilangkan, karena kalau dibiarkan, pikiran-pikiran itu akan benar-benar berbuah kejahatan saat ada kesempatan.
Lihat juga: Menjadi Kudus Seperti Allah
Kehendak Tuhan belum terlaksana kalau setiap orang ‘baru sebatas’ tidak saling mencelakakan. Yang diinginkan Tuhan adalah kita saling mengasihi.
Orang yang meyimpan kemarahan pada orang lain sulit melihat hal-hal yang baik pada orang tersebut sehingga cenderung untuk menilai segala kata dan perbuatan ‘musuhnya’ itu dari sisi paling negatip, yang biasanya diikuti dengan segala caci maki atau penghinaan.
Dengan kemarahan, orang menutup pintu kasih di hatinya dan membuka diri untuk dipakai iblis melukai orang yang tidak disukainya.
Lihat juga: Iri Hati dan Cemburu
Kristus mengatakan siapa yang mencaci orang sebagai ‘jahil’ harus diserahkan ke dalam neraka. Yang dimaksud “Jahil’ disini bukan berarti ‘iseng’.
Kata; ‘jahil’ di sini diterjemahkan dari bahasa Aram: ‘more’ yang berarti orang yang bersikap masa bodoh atau tidak peduli dengan kehendak atau ajaran-ajaran Tuhan. Dengan kata lain: kafir.
Kita tidak punya hak dan tidak tahu bagaimana sebenarnya relasi seseorang dengan Allah. Karena itu kita tidak berhak, tidak pantas untuk menghakiminya menurut pikiran sendiri.
Lihat juga: Dihakimi, Dimusuhi, Dihina, Segera Mengampuni!
Kristus mengajarkan kita untuk selalu mau berdamai, saling mengampuni dan mengasihi dengan sesama, sebagai wujud kasih kepada Tuhan.
Dengan begitu, kalau orang datang beribadat untuk menyatakan ketaatan dan kasih kepada Allah, tetapi dia sadar telah menya kiti atau sebaliknya belum mengampuni sesama, dia bertindak munafik.
Lihat juga: Waspada Pengikut Yesus Menjadi Penghuni Neraka
Tidak mungkin kita mengatakan diri taat kepada Allah kalau hukum utamaNya agar saling mengasihi dengan sesama, tidak kita lakukan.
Karena itu dalam hal seperti ini Kristus mengatakan: ‘Tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan sesamamu’.
Lihat juga: Kita Dipanggil untuk Mencintai Tuhan dan Sesama
Kristus mengingatkan bahwa hidup di dunia pada hakekatnya adalah suatu perjalanan menuju Rumah Bapa. Kita berjalan bersama-sama dengan sesama dengan tujuan yang sama.
Kalau dalam perjalanan itu, kita berselisih paham, berbeda kepentingan dengan sesama dan belum mau berdamai dengannya, maka pada saat sampai di tujuan, Allah sendiri yang akan menjadi Hakim.
Lihat juga: Menanggapi Teguran Allah
Apa yang disampaikan Kristus dalam hal ini bukanlah untuk membuat kita takut dan gentar, tetapi justru mau menunjukkan kerahiman Allah, yang selalu memberi kesempatan kepada setiap kita untuk memperbaiki diri dan untuk ‘membayar’ kesalahan dan kelalaian dengan berbuat kasih, selagi masih diberi waktu hidup didunia.
Hal ini juga disampaikan nabi Yehezkiel: ‘Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapanKu serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia. Ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya’ (Yehezkiel 18:21-22)
Lihat juga: Mengikuti Kristus
Hari ini kita kembali diajak bersama-sama berpantang dan berpuasa. Tidak cukup kita berpuasa sebatas sebagai suatu kegiatan fisik dengan menahan lapar dan tidak makan makanan yang enak atau mahal saja.
Lihat juga: Berpuasa untuk Berubah
Kita perlu secara khusus menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa dan merenungkan Firman Allah, agar semakin peka memahami apa kehendak Allah terhadap diri kita masing-masing dan berusaha mentaatinya.
Kita perlu lebih banyak berderma dari kerelaan mengurangi makan makanan yang enak dan mahal untuk meringankan beban sahabat-sahabat Kristus yang berkekurangan.
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Mengampuni. Kemudian, Mengampuni Lagi
Marilah kita bersihkan diri dari segala kemarahan dan kebencian kepada sesama, karena sadar bahwa kita semuapun penuh kekurangan dan sering kali mengecewakan Allah.
Mari kita memanfaatkan setiap kesempatan yg dibukakan Tuhan untuk berbuat kasih kepada sesama, khususnya terhadap mereka yang lebih lemah dan membutuhkan pertolongan, sebagai silih atas dosa-dosa yang berulang kali kita lakukan.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Yesus Mendidik Orang Berdosa, Bukan Dirajam
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












