Kisah Para Rasul 22:30, 23:6-11,
Yohanes 17:20-26.
Shalom,
Dalam Perjamuan makan malam terakhir bersama para rasulNya, Kristus selain berdoa bagi para muridNya, juga berdoa bagi orang-orang yang akan menjadi percaya kepadaNya melalui pewartaan para muridNya, di manapun juga mereka berada.
Kristus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan Injil ke segala bangsa dan keseluruh dunia sehingga pada saatnya di manapun juga di dunia ini akan ada murid-murid Kristus.
Yang dikehendaki Kristus, selain percaya kepadaNya, seluruh jemaat juga bersatu dalam satu kesatuan kasih.
Persatuan di antara seluruh jemaat akan menjadi tanda yang nyata bahwa kita semua adalah murid-murid Kristus, dan dalam persatuan itulah Kristus dihadirkan di tengah dunia:
‘Dengan demikian, semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi’ (Yohanes 13:35).
Lihat juga: Menjadi Murid Kristus
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Di dalam kehidupan sehari-hari, persatuan yang terbentuk di dalam suatu kelompok, dasarnya sering kali bukan kasih tetapi karena adanya kesatuan tujuan atau kepentingan.
Persatuan seperti ini rapuh, karena di saat tujuan atau kepentingan telah tercapai, atau sebaliknya dianggap terlalu lama untuk dicapai, persatuan itu akan runtuh.
Demikian juga kalau dalam persatuan terjadi perbedaan kepentingan.
Tanpa kasih, masing-masing pihak cenderung berusaha mengalahkan yang lain dan bukan berusaha untuk saling memahami.
Persatuan dalam kasih yang diajarkan Kristus adalah persatuan dimana yang satu mau menerima yang lain secara utuh: saling mau menerima kelebihan, kekurangan dan keunikan satu sama lain karena sadar bahwa segalanya itu berasal dari Allah, supaya kita dapat saling melengkapi.
Kelebihan seseorang harus disyukuri sebagai berkat dari Allah bagi semua, sehingga tidak boleh ada saling iri atau persaingan yang tidak sehat.
Kekurangan seseorang di dalam kelompok, tidak dianggap menjadi beban bagi yang lain, tetapi sebagai suatu kesempatan yang dibukakan Tuhan untuk menyatakan kasih kepada Tuhan melalui orang tersebut.
Dengan demikian, dalam kelebihan dan kekurangan seseorang, di dalam segala suka dan duka kehidupan kita dapat melihat kehadiran Allah.
Lihat juga: Kebahagiaan Hamba Allah
Lihat juga: Roh Kudus Memampukan Kita Mengenal Allah
Setelah Paulus sampai di Yerusalem, dia disambut dengan baik oleh para rasul dan jemaat Yerusalem.
Tetapi kemudian datang orang-orang Yahudi dari Asia Kecil.
Mereka mengatakan bahwa Paulus telah membaptis orang-orang Yahudi diaspora dan bangsa-bangsa lain, tanpa meminta mereka mentaati hukum Taurat.
Mereka juga menuduh Paulus telah membawa orang bukan Yahudi untuk masuk ke Bait Allah.
Atas hasutan itu Paulus hampir saja dibunuh dengan dipukuli oleh orang banyak (Kisah Para Rasul 21:28-30).
Paulus ‘diselamatkan’ oleh kepala pasukan Roma, yang tidak menghendaki adanya kericuhan di Yerusalem.
Oleh kepala pasukan ini, Paulus dihadapkan ke Mahkamah Agama.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Lihat juga: Bersatu dalam Kasih Kristus
Di dalam sidang, Paulus melihat bahwa di situ ada kelompok orang-orang Saduki dan Farisi.
Ketika diberi kesempatan berbicara, dia mengatakan:
‘Aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi. Aku dihadapkan ke Mahkamah ini karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati’ (Kisah Para Rasul 23:6).
Yang dimaksud Paulus, karena dia mengajak semua orang untuk menaruh harapan kepada Kristus yang telah bangkit.
Orang-orang Farisi dan Saduki sesungguhnya bertentangan dalam pemahaman iman.
Orang Saduki yang hanya berpegang pada Kitab Taurat, tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati.
Orang-orang Farisi percaya akan adanya kehidupan setelah kematian di dunia karena selain Taurat mereka juga mempelajari Kitab Para Hakim.
Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat
Lihat juga: Pastor Kopong: Kehadiran Gereja Katolik Jadi Kegelisahan Ahli Taurat Zaman ini
Tetapi dalam menghadapi Kristus, kedua kelompok ini bersatu, karena mempunyai ‘musuh bersama’.
Mereka sepakat bahwa Kristus telah mengajarkan pemahaman sesat dan membahayakan posisi mereka sebagai pemuka agama.
Ketika mendengar Paulus ditangkap karena keyakinannya akan kebangkitan orang mati, orang-orang Farisi terpancing marah, karena menganggap Paulus ditangkap karena ulah orang-orang Saduki yang tidak mau percaya adanya kebangkitan orang mati.
Terjadilah keributan besar di tempat Makamah Agama.
Kepala pasukan segera membawa Paulus pergi karena khawatir dia akan terbunuh dalam kekacauan itu.
Lihat juga: Doa Mulia Si Tukang Parkir
Lihat juga: Doa Penutup Kegiatan
Kristus berdoa agar kita semua sebagai murid-muridNya selalu bersatu dalam kasih dengan mencontoh persatuan antara Bapa dengan DiriNya.
Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Bersatu dalam kasih, bersatu dalam ikatan Allah, karena itu pasti sangat kuat.
Kalau kita memiliki kasih yang sejati, tidak ada persoalan dan perbedaan kepentingan atau pendapat yang dapat memisahkan kita.
Sebaliknya, persatuan yang terjalin hanya sebatas adanya kepentingan atau kesenangan bersama, seperti yang terjadi di antara orang-orang Farisi dan Saduki, sangat rapuh karena dasarnya adalah cinta diri.
Marilah kita terus membangun persatuan yg didasarkan kasih Kristus, baik di dalam keluarga, di tempat kita setiap hari beraktivitas maupun di tengah masyarakat luas, agar dengan persatuan itu, Kristus dapat dimuliakan dan ajaran-ajaranNya ditaati semua orang.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Menikmati Sukacita dari Kristus
Lihat juga: Ketaatan Membawa Keselamatan
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












