Konsekuensi Menjadi Murid Kristus

Keluaran 1:8-14, 22,

Matius 10:34-11:1

Shalom,

Kristus mengatakan: ‘Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang’.

Kata-kata Kristus ini harus dilihat di dalam konteks perutusan, sesuai topik pengajaran Kristus yang dicatat dalam seluruh bab 10 Injil Matius.

Pedang yang dimaksud di sini adalah pedang Roh yaitu Firman Allah (Efesus 6:17).

Pedang ini bukan untuk menyerang atau berperang.

Pedang yang dibawa Kristus adalah kebenaran Firman seperti yang dikehendaki Allah, suatu kebenaran yang bersifat mutlak, tidak bisa dicari jalan tengahnya atau ‘didamaikan’ dengan kehendak manusia atau kebiasaan-kebiasaan dunia yang telah dikotori nafsu-nafsu kedagingan.

Lihat juga: Kekhawatiran

Lihat juga: Diutus untuk Membawa Kedamaian

Di dalam kehidupan sehari-hari, yang baik dan benar justru sering tidak disukai orang-orang di sekitar kita.

Salah satu contoh, di dalam kondisi di mana korupsi dianggap sebagai hal yang biasa, orang jujur malahan lebih ditakuti dan dicurigai dari pada dihormati.

Meski begitu, segala kebiasaan buruk dunia tidak bisa dijadikan pemaaf bagi kita untuk ikut melakukannya.

Ketegasan berpikir dan bersikap ini yang ingin disampaikan Kristus kepada kita, utusan-utusanNya.

Konsekuensi sebagai seorang utusan Kristus untuk menyampaikan kebenaran kehendak Allah harus selalu dipegang kuat, termasuk saat berhadapan dengan orang-orang yang kita kasihi dan hormati.

‘Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu’.

Apa yang salah di hadapan Tuhan, tidak boleh dianggap benar hanya karena dilakukan orang-orang yang kita kasihi.

Justru dengan membiarkan kesalahan terus dilakukan, kita ikut menjerumuskan orang yang kita kasihi untuk menerima akibat-akibat dosa yang menyakitkan.

Dalam kesempatan lain, Kristus dengan tegas malah meminta kita menegur orang yang berbuat salah (Matius 18:15).

Menegur bukan untuk mempermalukan atau menghakimi, tetapi untuk menyadarkan dia sehingga dia diselamatkan dari kutukan dosa.

Tegurlah di dalam kasih dan dengan kelembutan hati.

Lihat juga: Kasih dan Kerendahan Hati

Lihat juga: Menyimpan Firman dalam Hati

Menolak untuk ikut melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah dianggap biasa oleh dunia pasti perlu keteguhan iman dan keberanian.

Tetapi inilah konsekuensi murid Kristus yang harus mau memanggul salib bersamaNya.

Kristus memanggul salib bukan untuk menerima kematian begitu saja tetapi karena Dia tahu melalui wafatNya Dia akan memperoleh kemuliaan kekal.

Dia memberanikan kita ikut memanggul salib kehidupan kita masing-masing agar kita juga dapat memperoleh kebahagiaan kekal bersamaNya.

Kristus menyadarkan para muridNya bahwa di dalam mewartakan Injil, mereka adalah utusan-utusanNya.

Di dalam situasi saat itu dimana tekhnologi komunikasi masih sederhana, kehadiran seorang utusan sangat penting dan dianggap sama seperti kehadiran orang yang mengutusnya, karena pesan-pesan atau pemikiran-pemikiran yang disampaikannya bukan berasal dari diri utusan itu sendiri tetapi dari yang mengutusnya.

Kristus mengatakan: ‘Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar’.

Menyambut seorang nabi, bukanlah sebatas menyediakan makanan, minuman, tempat tinggal dan perlengkapan lainnya.

Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Nabi-Nabi Sejati

Lihat juga: Nabi yang Dihargai di Negeri Siber

Menyambut seorang nabi adalah dengan menyambut pesan Allah yang disampaikan melalui nabi itu, sebagai suatu kebenaran yang harus dilakukan.

Dengan menerima, percaya dan melakukan pesan Allah itu, damai sejahtera akan kita alami. Inilah yang dimaksud upah yang berasal dari nabi.

Menyambut nabi pada saat ini dapat dilakukan dengan menyambut orang-orang kecil yaitu orang-orang yang dianggap bukan apa-apa bukan siapa-siapa oleh dunia.

Berbelas kasih dengan melakukan hal yang paling sederhana seperti memberi air sejuk secangkir saja terhadap orang-orang yang sedang berkesusahan, akan diperhitungkan Allah sebagai sikap kita dalam menyambut kehadiranNya (Matius 25:40).

Firman Tuhan sering kali terpikir sebagai hal yabg tidak masuk akal untuk dilakukan.

Akan tetapi di dalam Firman ada kuasa Allah yang meskipun amat dahsyat, tidak selalu nampak secara kasat mata.

Lihat juga: Berlindung Pada Firman Allah

Lihat juga: Meneladani Iman Santo Yusuf

Setelah Yusuf dan Firaun yang mengangkat dia menjadi raja muda di Mesir wafat, pengganti Firaun praktis tidak mengenal Yusuf.

Sesuai dengan janjiNya, Yahwe menganugerahkan kesuburan bagi wanita-wanita Israel, sehingga jumlah mereka bertambah dengan cepat.

Firaun (yang baru) menjadi cemas karena kalau jumlah orang Yahudi lebih banyak dari orang Mesir, bisa saja suatu saat mereka memberontak.

Karena itu dia mengambil tindakan-tindakan yang dapat membuat jumlah orang Yahudi berkurang.

Dia memerintahkan orang-orang Yahudi dijadikan budak-budak yang harus bekerja sangat keras, sehingga akan banyak yang mati dan mengurangi niat berhubungan dengan istri.

Akan tetapi usaha ini gagal, karena Allah telah berfirman kepada Abraham dan Yakub, bahwa anak-anak mereka akan menjadi sangat banyak, seperti bintang-bintang di langit.

Kuasa Firman tidak dapat dipatahkan oleh segala upaya manusia yang melawan kehendakNya.

Lihat juga: Melakukan Kehendak Allah yang Sesungguhnya

Lihat juga: Berpuasa untuk Mendengarkan Kehendak Tuhan

Hari ini, Kristus meneguhkan kita bahwa kita adalah utusan-utusanNya.

Sebagai utusan, kita harus tetap berpegang teguh pada kebenaran Firman, di manapun juga, dalam situasi kehidupan apapun dan dalam menghadapi siapapun juga.

Mengasihi Allah harus yang paling utama di dalam kehidupan kita, karena dengan dasar mengasihiNya kita akan dimampukan mengasihi semua orang.

Mentaati Firman Tuhan pasti akan penuh tantangan dan godaan, tetapi kuasa Firman yang dahsyat akan bekerja dalam diri setiap orang yang dengan taat dan setia melakukannya.

Kuasa Firman itu yg dapat membuat kita mengalami damai sejahtera, di bumi maupun kelak di alam kekekalan bersama Kristus.

Tuhan memberkati kita.

Lihat juga: Mengasihi Sesama Seperti Kristus Mengasihi Kita

Lihat juga: Menjadi Sahabat Kristus


Discover more from HATI YANG BERTELINGA

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

  • Related Posts

    Leave a Reply

    Spiritualitas

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Kasih-Mu Tiada Batasnya, Lirik: Melki Pangaribuan

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Puasa Katolik versi Romo Didit Pr dan Pater Sebas SVD

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    Hari Rabu Abu Mulai Masa Puasa Katolik, Bukan Prapaskah

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    3 Spirit & Mindset Efata Community

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Pastor Kopong MSF: Salahkah Berdoa Bersama Bunda Maria?

    Persembahan untuk Tuhan

    Persembahan untuk Tuhan

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Profil Uskup Baru Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Kultus Orang Kudus Bukan “Paganisme Disulap”

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Menguasai Lidah (Rekaman Pewartaan Mimbar)

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan

    Discover more from HATI YANG BERTELINGA

    Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

    Continue reading