Kisah Para Rasul 15:22-31,
Yohanes 15:12-17
Shalom,
Di dalam budaya Yunani dan Romawi, mati demi sahabat merupakan nilai tertinggi dari kasih.
Dengan wafat di kayu salib untuk melepaskan kita dari kutukan dosa, Kristus menyatakan Dia telah menjadikan kita sebagai sahabat-sahabat yang sangat dikasihiNya.
Sebagai Putera Allah, Dia menyampaikan kepada kita para sahabatNya, segala hal yang dikehendaki Allah supaya kita dapat hidup dalam kebahagiaan, kedamaian dan kepenuhan (tidak hampa).
Lihat juga: Penampakan Kristus dalam Kehidupan Sehari-hari
Lihat juga: Bersatu dengan Kristus untuk Memperoleh Hidup
‘Kamu adalah sahabatKu jikalau kamu melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu’.
Pernyataan ini bukan prasyarat Kristus untuk menjadikan kita sebagai sahabat-sahabatNya, karena sebelum kita mengenal dan mendengar ajaran-ajaranNya, Dia sudah menetapkan kita sebagai sahabat-sahabatNya.
Kristus mengatakan ini untuk menjelaskan, apa yang harus kita lakukan untuk menyatakan bahwa kita menerima dengan penuh syukur bahwa Dia telah melayakkan kita untuk menjadi sahabat-sahabatNya.
Kristus ingin kita mentaati apa yang diperintahkanNya kepada kita dalam perjamuan makan terakhir dengan para rasulNya, yaitu agar kita saling mengasihi, sama seperti Dia mengasihi kita (Yohanes 13:34).
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Lihat juga: Kepedulian kepada Sesama
Kita harus mengasihi sesama dengan ‘walau’ bukan dengan ‘kalau’.
Walau orang lain berlaku curang, membuat kita menderita, tidak menghargai kasih dan kesetiaan kita, tetapi kita tetap harus mengasihi dan mengampuni, karena Kristus terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita yang sering tidak taat, tidak setia dan berkali-kali mengecewakanNya.
Mengasihi dengan ‘walau’ adalah mengasihi tanpa prasyarat dan tanpa mengharap balasan.
Mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita adalah wujud nyata syukur kita karena Kristus telah mengangkat harkat martabat kita dari seorang hamba tawanan dosa menjadi sahabat-sahabatNya, orang-orang yang dibelaNya agar layak masuk ke dalam kebahagiaan abadi di rumah Bapa dengan mengorbankan NyawaNya.
Lihat juga: Menjadi Murid Kristus
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Setelah Petrus dan para rasul mengimani apa yang dikehendaki Tuhan dalam penerimaan bangsa-bangsa lain untuk menjadi murid-murid Kristus, mereka memutuskan untuk membuat surat kepada umat di Antiokhia.
Surat itu tidak dititipkan begitu saja kepada Paulus dan Barnabas, tetapi dengan mengutus dua orang pilihan: Barsabas dan Silas, sehingga jemaat Antiokhia lebih dapat diyakini bahwa itu sungguh keputusan yang diambil Petrus (sebagai penerus Kristus) atas bimbingan Roh Kudus.
Keputusan itu membuat tidak ada perbedaan lagi antara orang Yahudi dengan yang bukan Yahudi.
Di dalam kasih Kristus, mereka telah menjadi satu, telah menjadi sahabat satu dengan yang lain.
Tidak ada yang lebih tinggi dengan punya hak-hak prioritas tidak ada juga yang lebih rendah yang harus menanggung persyaratan yang lebih berat.
Seperti Kristus tidak memberi prasyarat bagi kita untuk menjadi sahabat-sahabatNya, janganlah kita membebani orang yang sungguh-sungguh mau bertobat dan ingin menjadi muridNya.
Persahabatan di antara orang-orang yang berlainan budaya, sejarah dan bahasa menunjukkan kehadiran Kristus di tengah dunia yang sangat gemar mengkotak-kotakan sesama dan merasa dirinya/kelompoknya lebih dari yang lain.
Lihat juga: Upah Mengikuti Kristus
Lihat juga: Menjadi Saksi Kristus
‘Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikanNya kepadamu’.
Buah yang dimaksud adalah ‘hasil’ perbuatan kasih. Buah itu harus tetap, artinya kasih harus selalu ditunjukkan dan dilakukan kepada siapapun, di manapaun kita berada dan kapanpun juga.
Berbelas kasih bukan hanya pada saat kita sedang senang atau berkelebihan dan bukan hanya ditujukan untuk orang-orang yang disukai atau yang kita butuhkan saja.
Berbuat kasih adalah konsekwensi kita untuk menerima uluran tangan Kristus, yang telah memilih kita menjadi sahabat-sahabatNya dan bukan sarana untuk meminta upah dari Tuhan, atau ‘memaksa’ Dia memberi apa yang kita mau.
Lihat juga: Memperbarui Dunia dengan Perintah Kasih yang Baru
Lihat juga: Tidak Ada yang dapat Memisahkan Kasih Kristus kepada Kita
Kristus mengutus kita untuk ‘pergi dan berbuah’.
Kata ‘pergi’ berarti suatu tindakan aktif. Jadi bukan hanya menunggu saja.
Jangan menunggu orang meminta pertolongan baru mau menolong Jangan tunggu sampai orang yang bersalah meminta ampun baru mau mengampuni.
Mari kita secara aktif berbagi kasih, karena Kristus telah melimpahi kasih yang teramat dalam kepada kita terlebih dulu.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Menjadi Wajah Belas Kasih Allah
Lihat juga: Kasih Mengatasi Badai
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












