HATIYANGBERTELINGA.COM – Dalam sebuah pernikahan, salah satu tantangan yang sering tak terlihat namun memiliki dampak besar adalah suatu perilaku yang dikenal sebagai silent treatment.
Silent treatment adalah bentuk komunikasi non-verbal, di mana seseorang dengan sengaja menghindari atau tidak berbicara dengan pasangannya.
Pada konteks pasangan, silent treatment sering muncul ketika salah satu pasangan memilih diam, sementara pihak lain menuntut respons dan membuka pembicaraan agar masalah dapat terselesaikan.
Di lain kondisi, dapat saja kedua pasangan memilih untuk saling diam dan berpisah sementara saat terjadi masalah atau pertengkaran.
Melansir dari laman Cleveland Clinic, perilaku silent treatment merupakan bentuk stonewalling atau penghindaran yang terjadi dalam konflik pasangan.
Lihat juga: Lima Penyebab Pasangan Kehilangan Ketertarikan Usai Menikah
Lihat juga: 5 Kebiasaan dengan Pasangan, Bahaya atau Normal?
Bagi sebagian orang, perilaku ini menjadi cara untuk penenangan dirinya. Namun, tanpa disadari hal tersebut juga dapat menyakiti pihak lain.
Mereka yang melakukan silent treatment, terkadang berpikir bahwa perilaku tersebut adalah keputusan yang terbaik dan bukan hal yang salah dalam menghadapi konflik.
Akan tetapi, nyatanya dalam jangka panjang, tingkah laku ini dapat berdampak masalah serius, seperti merusak hubungan dan kesejahteraan psikologis pasangan.
Kebanyakan orang yang menerima sikap silent treatment, akan mengalami frustrasi atau semakin marah karena kebutuhan emosional mereka tidak terpenuhi.
Mereka juga dapat merasa kebingungan dan bertanya pada diri sendiri alasan mendapatkan sikap diam ini, hingga berakhir dengan keadaan overthinking.
Lihat juga: Sembilan Aturan Penting dalam Pernikahan
Lihat juga: Perlunya Persiapan Pernikahan Agar Bahagia
Dampak lain yang dapat terjadi akibat silent treatment dalam hubungan pernikahan, yakni:
1. Perasaan pada pasangan mulai pudar dan tidak dapat memahami satu sama lain.
2. Risiko terhadap kesehatan mental dan emosional, terutama pada penerima sikap silent treatment. Contohnya seperti kecemasan, gangguan tidur, dan penurunan percaya diri.
3. Pudarnya rasa saling percaya dan menciptakan jarak antar pasangan.
4. Terciptanya bentuk kekerasan emosional, seperti memanipulasi, menghukum, atau mengontrol pasangan.
Lihat juga: Awas Ghosting-KDRT, Kenali Pasangan Sebelum Menikah
Lihat juga: Kiat S.E.H.A.T Cegah Ghosting dan KDRT
Sikap silent treatment tiap orang juga dapat berbeda-beda. Untuk mengenalinya, berikut beberapa tanda-tanda yang perlu diketahui:
1. Sengaja mengabaikan Anda dengan jelas.
2. Bertindak seolah tidak terjadi apa-apa atau melakukan hal yang memancing reaksi emosi.
3. Tidak berkomunikasi selama berjam-jam, berhari-hari, hingga berbulan-bulan.
4. Pergi tanpa memberi tahu tujuannya dan hilang begitu saja tidak kembali.
5. Bicara dengan orang lain di depan Anda, namun tidak berbicara dengan Anda.
Selain itu, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan sikap silent treatment terjadi pada seseorang, di antaranya seperti:
Lihat juga: Suami Istri Tidak Sekedar Keintiman Fisik
Lihat juga: Perjanjian Pranikah Bukan Kewajiban
1. Ketidakmampuan mengelola emosi atau menangani konflik secara terbuka, sehingga lebih memilih diam dibandingkan membuka pembicaraan hingga keadaan semakin panas.
2. Upaya untuk mengontrol atau memanipulasi keadaan, di mana bisa sebagai bentuk hukuman atau mendapatkan perhatian pada pasangan.
3. Penghindaran komunikasi karena takut berkonflik atau merasa tidak dipahami pihak lain.
4. Terbiasa berada di lingkungan dengan komunikasi tertutup atau terjebak rasa traumatis.
Agar hubungan dengan pasangan tetap romantis dan sehat, berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menghadapi sikap silent treatment:
Lihat juga: Aspek-aspek Penting Sebelum Menikah
Lihat juga: Kunci Bahagia: Nikmati Momen Saat Ini
1. Dapat membedakan antara waktu sejenak untuk menenangkan diri dan menghindari komunikasi.
Biasanya pasangan yang lebih memilih menenangkan diri agar tidak melepaskan emosinya saat berkonflik, akan meminta waktu diam sejenak sekitar 30 menit. Bukan diam selama berhari-hari.
2. Lakukan pendekatan dengan baik, ungkapkan perasaan dengan jujur dan tenang.
Agar tidak terjadi konflik berat dan berakhir dengan sikap silent treatment, Anda dapat melakukan pendekatan dengan baik dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin tanpa terbawa emosi.
Kemudian, jika perlakuan silent treatment sudah berlebihan, dapat ungkapkan perasaan dengan jujur bahwa Anda sering diabaikan dan ingin tahu alasan dibalik sikap diamnya.
Lihat juga: Tips Dapat Restu Orangtua dan Calon Mertua
Lihat juga: Delapan Kiat Sikapi Rasa Sedih Putus Cinta
3. Meminta bantuan profesional.
Jika pola silent treatment terus berulang dan sudah menimbulkan luka emosional atau kesehatan mental terganggu, Anda bisa konsultasi dengan terapis pasangan atau psikolog keluarga untuk membantu menyelesaikan masalah dan menyembuhkan kesehatan mental Anda.
4. Lakukan rutinitas komunikasi sehat
Anda bersama pasangan bisa melakukan rutinitas komunikasi sehat atau sesi curhat. Waktu tersebut bisa digunakan untuk membicarakan soal perasaan satu sama lain dan tindakan yang menyakiti antar pasangan. (ANTARA)
Lihat juga: Seberapa Lekat Anda dengan Pasangan? Kenali Tipe-tipe Kelekatannya!
Lihat juga: Lakukan 12 Hal “Kecil” Ini Agar Pasangan Semakin Cinta
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












