HATIYANGBERTELINGA.COM – Dokter spesialis bedah saraf Muhammad Kusdiansah dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dr. Mahar Mardjono Jakarta menjelaskan bahwa moyamoya adalah istilah dalam bahasa Jepang yang digunakan untuk menggambarkan tumbuhnya banyak pembuluh darah kecil akibat penyempitan pembuluh darah utama.
Dalam acara diskusi daring, dokter Muhammad Kusdiansah Sp.BS menyampaikan bahwa kata moyamoya yang sebenarnya berarti kepulan asap digunakan untuk menyebut pembuluh-pembuluh darah kecil yang tampak menyebar menyerupai asap pada hasil pemeriksaan angiografi.
“Kenapa ada tumbuh pembuluh darah kecil-kecil yang halus sehingga gambarannya seperti kepulan asap? Karena pembuluh darah utamanya yang besar itu mengecil, dia menyempit, atau istilah kedokterannya, terjadi stenosis, dan pada akhirnya pembuluh darah utamanya hilang,” ia menjelaskan dilansir Senin (26/5/2025).
Dalam hal ini, ia melanjutkan, pembuluh-pembuluh darah kecil terbentuk dengan cepat akibat mekanisme tubuh untuk mengompensasi otak yang kekurangan aliran darah akibat penyempitan pembuluh darah utama.
Lihat juga: Kurang Tidur Buat Otak Menahan Banyak Kenangan Buruk
Lihat juga: Gaya Hidup Aktif Buat Otak Awet Muda
Menurut dokter Kusdiansah, penyebab penyakit moyamoya belum diketahui secara pasti. Namun, faktor genetik diduga berperan dalam perkembangannya.
Ia menyampaikan bahwa penyakit moyamoya banyak terjadi pada orang Asia Timur.
“Datanya itu sangat tinggi di Korea, di Jepang, di China. Kemudian orang-orang yang tinggal di kepulauan Pasifik, French Polynesia, kemudian kepulauan Vanuatu, itu tinggi kan moyamoya di sana,” katanya.
Lihat juga: Minum Kopi Tanpa Gula dapat Kurangi Risiko Alzheimer-Parkinson
Lihat juga: Cara Hindari Gejala Parkinson Sejak Usia Muda
“Di Eropa dan Amerika, hanya satu dari satu juta orang, kecil sekali. Kalau di Jepang itu satu dari 10 ribu. Indonesia itu kombinasi dari dua-duanya,” ia menambahkan.
Ia mengatakan bahwa belum banyak kasus penyakit moyamoya yang terdeteksi di Indonesia.
Rumah Sakit Pusat Otak Nasional saat ini menangani 40 kasus moyamoya, dan masih tercatat sebagai rumah sakit yang paling banyak menangani kasus penyakit tersebut.
Dokter Kusdiansah mengemukakan perlunya edukasi mengenai gejala moyamoya kepada masyarakat untuk meningkatkan temuan kasus penyakit tersebut.
Menurut dia, gejala awal moyamoya mirip dengan gejala stroke, termasuk di antaranya kelemahan pada salah satu bagian tubuh, baal, dan gangguan tidak lazim seperti mendadak mengalami gangguan memori berat pada usia muda.
Lihat juga: Pemicu Sindrom Patah Hati dan Risikonya
Lihat juga: 10 Kebiasaan Mempercepat Penurunan Kognitif
“Misalnya tiba-tiba ketinggalan mata pelajaran, misalnya dia berprestasi lagi atau sekolah kuliah tapi tiba-tiba jadi sering susah mikir, berhitung jadi enggak bisa, terus nangkep pelajaran jadi susah padahal pintar dulunya. Aneh itu, tiba-tiba nilainya anjlok,” kata dokter Kusdiansah.
Gejala semacam itu, menurut dia, seringkali muncul secara tiba-tiba pada anak-anak hingga orang berusia 20-an tahun akibat penyempitan pembuluh darah yang menimbulkan gangguan di pusat kognitif otak, yang dikategorikan sebagai moyamoya.
Penderita moyamoya juga berpeluang mengalami kejadian stroke berulang yang mencurigakan pada usia sekolah.
Dokter Kusdiansah mengatakan bahwa gejala moyamoya yang muncul mendadak dan tidak lazim pada usia muda umumnya lebih mudah didiagnosis.
Lihat juga: Kaum Muda Waspadai Gejala Penyakit Syaraf
Lihat juga: Kenali Ciri Pusing Pertanda Vertigo
Pada rentang usia ini, anak umumnya masih berada dalam pengasuhan orang tua, yang akan biasanya akan segera mencari tahu penyebab anak mengalami gangguan yang tidak biasa.
Dokter Kusdiansah mengatakan bahwa moyamoya dapat terjadi pada anak usia dua tahun sampai sembilan tahun serta remaja.
Orang dalam rentang usia 30 sampai 50 tahun juga dapat mengalaminya.
Moyamoya dinilai lebih membahayakan pada orang-orang dalam rentang usia ini.
Lihat juga: Cara Mencegah Demensia
Lihat juga: Perbedaan Sakit Kepala Migrain dengan Vertigo
“Ini lebih berbahaya, karena biasanya moyamoya-nya disertai dengan tekanan darah yang tinggi,” kata dokter Kusdiansyah.
“Usia 40 tahun, tensi sudah mulai tinggi, 35 tahun itu penelitiannya sudah mulai pra-hipertensi. Artinya pembuluh darah yang kecil-kecil tadi itu kan dibentuknya cepat, pembuluh darahnya tipis, artinya kalau dikombinasi dengan hipertensi, ia akan gampang pecah,” ia menjelaskan.
Ia menyampaikan pentingnya mewaspadai kejadian stroke berulang pada orang berusia 40 tahun, yang dapat terjadi karena kelainan pada pembuluh darah seperti moyamoya.
Lihat juga: Milenial Banyak Alami Hipertensi, The Silent Killer Usia 22-40 Tahun
Lihat juga: Perbanyak Langkah Jalan Kaki Tiap Hari dapat Perpanjang Usia
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












