Yunus 3:1-10, Lukas 11:29-32
Shalom,
Niniwe adalah kota besar yang penduduknya bukan orang Yahudi. Malahan bangsa ini turun temurun bermusuhan dengan bangsa Yahudi. Suatu saat Allah mengutus Yunus bin Amitai, seorang Yahudi, untuk pergi ke Niniwe untuk menyampaikan bahwa dalam dalam waktu 40 hari mendatang, Allah akan menghancurkan kota itu, karena Allah muak melihat kejahatan-kejahatan mereka.
Lihat juga: Siap Sedia Bilamana Tuhan Allah Melawat
Sesungguhnya Allah dapat saja menghancurkan kota itu tanpa peringatan lebih dulu. Tetapi Allah memilih mengutus Yunus, untuk memberi mereka ‘peringatan terakhir’.
Inilah wujud kerahiman Allah yang tetap ingin menyelamatkan semua orang, tanpa kecuali.
Lihat juga: Dihakimi, Dimusuhi, Dihina, Segera Mengampuni!
Raja Niniwe sangat heran bahwa ada orang Yahudi berani masuk ke kotanya dan bernubuat tentang kehacuran kota tersebut. Akan tetapi dia kemudian dapat menangkap, keanehan itu justru menunjukkan bahwa Yunus sungguh-sungguh diutus Penguasa alam semesta.
Saat itu bangsa Niniwe adalah bangsa kafir yang belum mengenal Yahwe.
Lihat juga: Ngormatin Sohib Jesus Sama Seperti Ngormatin Allah
Mendengar peringatan yang disampaikan Yunus, Raja Niniwe sadar akan segala kebiasaan buruk bangsanya selama ini.
Dia mengajak rakyatnya untuk melakukan pertobatan masal dan memohon pengampunan dari Allah. Yahwe berkenan atas pertobatan bangsa ini dan mengampuni mereka.
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Pujilah Tuhan
Setelah Kristus mengusir roh jahat dari seorang yang bisu (Lukas 11:14) banyak orang masih terus mengerumuniNya.
Mereka tetap belum percaya bahwa Dia adalah Mesias dan masih meminta tanda-tanda Ilahi lain agar dapat percaya.
Kristus kecewa atas kekerasan hati mereka.
Lihat juga: Prapaskah Bersama St. Fransiskus Assisi: Kerendahan Hati yang Suci
Dengan sikap hati seperti itu, apapun yang akan dilakukanNya tetap tidak akan membuat mereka percaya.
Dia menolak memberi tanda-tanda lainnya kecuali kelak pada waktunya, memberi tanda Yunus.
Lihat juga: Memaknai “Tanda” Sesuai Kehendak Tuhan
Sebelum Yunus sampai di Niniwe, di laut dia ditelan ikan paus. Tiga hari tiga malam dia ada dalam perut ikan, sampai akhirnya ikan itu memuntahkan dia dipantai Niniwe.
Yunus lalu menyampaikan pesan Allah yang akhirnya menyelamatkan orang-orang Niniwe.
Lihat juga: Kasih Yang Menyelamatkan
Kristus akan dibunuh dan dimakamkan. Tetapi pada hari ketiga Dia akan bangkit dari kematian.
KebangkitamNya itu yang menyelamatkan semua orang yang mau percaya.
Lihat juga: Iman Menyelamatkan Kita
Orang-orang yang mengerumuni Kristus telah mendengar ajakanNya untuk bertobat, tetapi tidak merasa mereka harus bertobat.
Mereka berpikir selama ini sudah hidup dengan baik dan karena mereka adalah bangsa pilihan Allah.
Kristus membandingkan mereka dengan orang-orang Niniwe yang dikenal kafir dan jahat.
Lihat juga: Dihormatin Ada Kecualinya
Tetapi karena melihat keberanian Yunus, mereka percaya bahwa dia seorang nabi sehingga percaya akan apa yang dikatakannya, pada hal Yunus tidak membuat mujizat atau memberi pengajaran apapun.
Mereka bertobat dan karena itu memperoleh pengampunan. Sedangkan orang-orang yang saat itu mengerumuniNya, telah melihat tanda-tanda Ilahi yang dilakukanNya dan mendengar ajaran-ajaranNya tetapi tetap tidak mau percaya.
Lihat juga: Dipanggil untuk Bertobat dan Mempertobatkan
Dalam masa pra Paskah ini, gereja mengajak kita semua lebih bersungguh-sungguh melakukan pertobatan.
Apakah kita percaya bahwa ajakan ini berasal dari Allah sendiri? Atau jangan-jangan kita punya hati yang keras seperti orang-orang Yahudi saat itu, yang merasa sudah hidup baik, sehingga tidak perlu bertobat?
Lihat juga: Malaikat-malaikat Allah Sukacita karena Orang Berdosa yang Bertobat
Sejujurnya, ada banyak sekali mujizat yang telah kita alami dalam kehidupan kita.
Allah pun terus menyampaikan FirmanNya yang dapat kita dengar di manapun dan kapanpun, sejauh kita mau.
Tetapi apakah itu membuat kita sungguh-sungguh percaya dan mau taat kepada Kristus?
Lihat juga: Terang Kristus Dalam Kegelapan
Kristus mengingatkan tentang seorang ratu dari kerajaan di selatan Palestina, yang rela mengadakan perjalanan yang sangat jauh, untuk melihat dan mendengar sendiri segala kebijaksanaan Salomo.
Setelah dia menyaksikannya sendiri, hatinya penuh suka cita dan dia mau percaya kepada Yahwe.
Lihat juga: Hati Kita Bagi Kemurahan Kasih Tuhan
Salomo memang telah dianugerahkan Tuhan rahmat kebijaksanaan yang luar biasa, tetapi bagaimana pun juga dia tetap seorang manusia yang tidak lepas dari kelemahan.
Kristus adalah Putera Allah yang melebihi segala nabi. Ajaran-ajaranNya berkali-kali membungkam para ahli Taurat dan imam-imam kepala karena yang disampaikanNya sungguh adalah kebenaran-kebenaran dari Allah.
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Tanda-tanda Ilahi yang dilakukanNya sangat dahsyat sehingga Nicodemus seorang imam yang terhormat dengan jujur mengatakan kepada Kristus: ‘Tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan’ (Yohanes 3:2).
Meskipun begitu, orang-orang Yahudi yang mendengarkan Kristus tetap tidak mau percaya kepadaNya.
Lihat juga: Dibaptis: Mengenakan Kristus, Menerima Roh Kudus dan Menolak Roh Jahat
Apakah kita lebih baik dari orang-orang Yahudi saat itu? Apakah ajaran-ajaran Kristus sungguh telah kita usahakan untuk dilakukan didalam kehidupan sehari-hari?
Kekerasan hati dan kesombongan rohani sering menjadi penghalang bagi banyak orang untuk sungguh-sungguh mau taat kepada FirmanNya, untuk mau mengasihi, mengampuni dan melayani seperti Kristus telah mengasihi, mengampuni dan melayani kita.
Lihat juga: Berlindung Pada Firman Allah
Mari kita ingat bahwa Allah dapat mengutus siapapun sebagai alatNya untuk menasehati, menegur dan menyampaikan segala kehendakNya agar kita memperoleh keselamatan.
Janganlah melihat siapa yang menasehati tetapi dengarkanlah apa yang disampaikan, agar jangan sampai sapaan pribadi Tuhan kepada kita, tidak ditanggapi semata-mata karena tidak suka dengan orang yang diutusNya.
Lihat juga: Yesus Utuslah Aku Menjadi Jala-Mu
Ingatlah bagaimana Allah mengutus Yunus, orang Yahudi yang dianggap rendah bangsa Niniwe untuk menyerukan pertobatan.
Mari manfaatkan secara optimal waktu 40 hari menjelang Paskah ini untuk berubah dan bertobat, sebelum segalanya terlambat.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Berpuasa untuk Berubah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












