Kisah Para Rasul 15:1-6,
Yohanes 15:1-8
Shalom,
Kristus mengatakan: ‘Akulah pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya’.
Setiap pemilik kebun buah tentu berharap dan berusaha agar pohon-pohon di kebunnya dapat berbuah banyak dan lezat.
Demikian juga dengan Alllah. Dia ingin setiap pohon yang ditanamnya dapat menghasilkan banyak buah.
Lihat juga: Penggarap Kebun Anggur Allah
Lihat juga: Rutin Makan Buah Anggur dapat Kurangi Risiko Sakit Jantung
Dalam Perjanjian lama, bangsa Israel sering disebut sebagai kebun atau pokok anggur milik Allah.
Mereka sangat diperhatikan Allah, tetapi mereka malah sangat mengecewakan Allah karena iman dan kehidupan mereka tidak lebih baik dari bangsa-bangsa lainnya meskipun Allah telah menganugerahkan FirmanNya dan mengutus nabi-nabiNya untuk membimbing mereka agar hanya menyembah Allah dan supaya tingkah laku mereka dapat menjadi teladan bagi bangsa-bangsa lain.
Tetapi mereka terlalu keras hati untuk taat dan setia.
Lihat juga: Iman dan Ketaatan
Lihat juga: Tetap Taat dan Percaya di Saat Kecewa
Kristus mengatakan DiriNya adalah Pokok Anggur yang benar, yang menghasilkan buah yang berlimpah sehingga dapat menyenangkan Pemiliknya.
Buah yang dimaksud adalah buah kasih seperti yang dikehendaki Allah: rela berkorban untuk menolong sesama, selalu mau mengampuni yang bersalah, mengingatkan banyak orang untuk sadar akan kasih kuasa Allah dan mau mensyukurinya dalam perbuatan nyata.
Lihat juga: Mensyukuri Kebangkitan Kristus
Lihat juga: Bersyukur dengan Ketaatan
Allah menghendaki kita terus berbuah, sehingga Dia berkenan terus menganuge rahkan FirmanNya agar kita lebih mengetahui kehendak Allah dan membersihkan hati dan pikiran kita dari pengaruh dunia dan godaan-godaan iblis.
FirmanNya mengingatkan akan kasih Allah sehingga kitapun tergerak menyalurkan kasih itu kepada banyak orang, khususnya yang sedang letih, lemah dan berbeban berat.
FirmanNya menyadarkan bagaimana Allah terus mengampuni dosa-dosa dan kelalaian kita sehingga kitapun dimampukan untuk mengampuni yang bersalah dan hati kita bersih dari dendam dan kemarahan.
Di dalam kasih tidak berarti tidak ada perbedaan, karena melalui perbedaan, Allah justru dapat semakin menyempurnakan kita.
Lihat juga: Ayah yang Tidak Sempurna 2024
Lihat juga: Jangan Gelisah, Percayalah pada Allah
Di Antiokhia, Paulus dan Barnabas berhasil menggalang umat dalam jumlah besar yang mau percaya kepada Kristus.
Mereka bukan hanya orang-orang Yahudi saja tetapi juga bangsa-bangsa lain yang memang banyak tinggal di kota tersebut. Akan tetapi kemudian datang orang-orang Yahudi dari Yerusalem.
Orang-orang ini terkejut melihat adanya bangsa-bangsa lain ikut menjadi umat Allah, karena mereka sangat yakin bahwa Allah hanya berkenan menyelamatkan bangsa Israel saja.
Kalau ada bangsa lain yanqg mau percaya kepada Yahwe, maka mereka harus menjadi orang Yahudi dulu, harus mau mengikuti adat istiadat mereka: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan Musa, kamu tidak dapat diselamatkan’ (Kisah Para Rasul 15 :1-6).
Lihat juga: Ngeri! Penebang Bakal Kena Denda Adat Wajib Mengkafani Pohon Sialang Layaknya Manusia
Lihat juga: Percaya Tanpa Syarat
Paulus dan Barnabas menentang pendapat itu. Mereka percaya bahwa Allah mau menyelamatkan semua orang tanpa kecuali.
Perbedaan penafsiran ini membingungkan umat.
Untuk mengatasinya, mereka lalu sepakat membawa persoalan ini kepada Simon Petrus, karena dia yang telah ditunjuk sendiri oleh Kristus untuk meneruskan penggembalaanNya dan dipercaya menjadi pemegang kunci kerajaan Surga.
Inilah cara yang tepat untuk selalu melekat pada kehendak Allah, untuk melekat pada Kristus sebagai pokok anggur yang benar dan tidak berkukuh menganggap pendapat pribadi sebagai yang paling benar.
Dengan sikap hati seperti ini, perbedaan pendapat di antara mereka tidak membuat mereka saling membenci atau malahan menjatuhkan. Mereka memilih jalan kasih untuk mencari penyelesaiannya.
Lihat juga: Kristus adalah Jalan, Kebenaran dan Hidup
Lihat juga: RIP Paus Fransiskus, Sosok Membelah Opini Publik
Di dalam kehidupan sehari-hari di keluarga, di tempat beraktivitas bahkan di pelayanan, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sangat sering terjadi.
Perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus ditakutkan atau ditindas sehingga tidak sampai terlihat.
Perbedaan pendapat bisa saja menjadi jalan Allah untuk menyempurnakan kita. Karena itu yang terpenting adalah bagaimana mencari penyelesaian terbaik di dalam kasih.
Kita mau saling mendengarkan, memahami dan menghindarkan sikap arogan dengan merasa diri paling benar, paling tahu, paling pandai.
Kasih yang terpancar di dalam menghadapi perbedaan pendapat dan kepentingan, justru dapat menjadi cermin sejauh mana kita sungguh telah hidup di dalam Firman Allah dan menjadikan Kristus sebagai pokok anggur di mana kita mau bergantung.
Marilah kita berlomba-lomba berbuat banyak kasih, agar setiap kita menjadi pohon-pohon anggur yang berbuah lebat dan lezat, sehingga dunia dapat semakin mengenal Kristus dan menerimaNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Bersatu dengan Kristus untuk Memperoleh Hidup
Lihat juga: Dipanggil untuk Diselamatkan
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











