
Ibrani 4:12-16, Markus 2:13-17
Shalom,
Setelah menyembuhkan orang yang lumpuh dan mengampuni dosanya, Kristus berjalan ke pantai danau Galilea.
Dalam perjalanan Dia melihat Lewi, seorang pemungut cukai, sedang duduk di rumah cukai.
Dengan penuh wibawa, Ia memanggil Lewi untuk mengikutiNya (menjadi muridNya).
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Lihat juga: Yesus Mencela Kedegilan Hati Murid-Nya
Ada kuasa Allah dalam panggilan ini sehingga Lewi serta merta tergerak bangkit dan mengikutiNya.
Seorang pemungut cukai adalah orang yang bekerja untuk kekaisaran Roma, bangsa kafir yang menjajah bangsa Yahudi.
Mereka melawan hukum Taurat yang melarang orang-orang Yahudi untuk bergaul (apalagi bekerja) dengan bangsa kafir.
Lihat juga: Ada Kuasa Allah dalam Kata-kataNya
Lihat juga: Kristus Mempersatukan dan Menyelamatkan Kita
Mereka juga dianggap sebagai pendosa publik, artinya orang yang membuat kejahatan terhadap masyarakat luas, karena mereka dengan tega memungut cukai begitu tinggi sehingga ‘mencekik’ para pedagang, petani, dan nelayan.
Hal ini dimungkinkan karena saat itu belum ada undang-undang yang jelas tentang ketentuan besarnya cukai yang harus dibayar rakyat yang ada di daerah kekuasaan Roma.
Ketika kemudian Kristus makan di rumah Lewi, banyak pemungut-pemungut cukai yang ikut bergabung makan bersama.
Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang melihat itu merasa sangat jengkel karena selama ini mereka dengan pengaruhnya di dalam masyarakat, mengucilkan mereka dari kehidupan sosial sebagai hukuman karena mereka melawan hukum Taurat dan memeras bangsanya sendiri.
Lihat juga: Kristus Menggenapi Hukum Taurat
Lihat juga: Ragi Orang Farisi dan Herodes
Orang-orang Farisi itu tidak berani menegur langsung Kristus karena mereka tahu ada banyak orang yang masih sangat terkesan dengan mujizat-mujizat penyembuhan dan pengajaran-pengajaranNya.
Mereka memilih menegur para muridNya, tetapi sengaja dengan suara yang cukup keras untuk dapat didengar oleh Kristus.
Menanggapi cemohan mereka itu Kristus mengatakan: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa’.
Lihat juga: Malaikat-malaikat Allah Sukacita karena Orang Berdosa yang Bertobat
Lihat juga: Yesus Mendidik Orang Berdosa, Bukan Dirajam
Ketika di Kapernaum, Kristus menunjukkan bahwa sebagai Putera Allah, Dia punya kuasa untuk mengampuni dosa dengan mentahirkan seorang kusta.
Dalam kesempatan kali ini, Kristus menunjukkan hal yang lebih dalam lagi yaitu bahwa Dia datang ke dunia justru untuk orang berdosa, untuk menyelamatkan mereka!
Orang-orang Farisi tidak percaya bahwa Kristus adalah Mesias, tetapi dengan menyaksikan sendiri penyembuhan-penyembuhan yang sering dilakukan Kristus, mereka percaya Dia adalah seorang Tabib yang ajaib.
Lihat juga: Menghayati Mujizat Allah
Lihat juga: Waspadalah Kebutaan Rohani
Kristus menggunakan apa yang mereka yakini itu untuk membuka pikiran mereka tentang peran seorang pemimpin rohani sejati, dengan membandingkannya dengan peran seorang tabib.
Secara tersirat, Kristus juga mau mengatakan bahwa kasih dan kerahiman Tuhan disambut dengan penuh haru dan syukur oleh orang-orang yang berdosa, tetapi bagi orang yang benar-benar tidak berdosa, pengampunan Tuhan tidak dibutuhkan.
Meskipun begitu, sebagai ahli-ahli Taurat, mereka harusnya sadar bahwa tidak ada orang yang tidak pernah berdosa (kecuali Yesus Kristus).
Lihat juga: Dosa Tidak Pernah Bercanda, Kristus Telah Menebus Kita
Lihat juga: Bertobatlah, Manfaatkan Kerahiman Tuhan
Tetapi kenyataannya mereka memposisikan diri sebagai orang yang tidak berdosa sehingga menolak bertobat.
Mereka malahan merasa berhak ‘mewakili Tuhan’ menghukum atau mengucilkan orang-orang yang menurut mereka berdosa.
Kedatangan Kerajaan Allah sangat disyukuri oleh orang-orang yang dengan rendah hati mengakui diri penuh dengan dosa.
Tetapi Kerajaan Allah, dalam wujud kasih pengampunan ditolak oleh orang-orang yang sombong rohani yang merasa dirinya tidak berdosa.
Lihat juga: Mengembangkan Kerohanian
Lihat juga: Menyatakan Iman dalam Perbuatan
Dalam kitab Ibrani ditulis: ‘Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Ia menusuk amat dalam sampai (mampu) memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum. Ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran kita’ (Ibrani 4:12).
Pedang bermata dua (artinya dua sisinya tajam) sangat bermanfaat untuk para tentara yang berperang, karena untuk melukai lawan dia tidak perlu membolak balik sisi pedang.
Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya
Lihat juga: Berlindung Pada Firman Allah
Firman Allah dengan sangat tajam dan efektif dapat menembus sampai kedalaman hati setiap orang sehingga orang sadar, Allah menilai kita bukan dari apa yang tampak dari luar saja, dari kata-kata dan penampilan, tetapi terutama apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Firman menunjukkan kita secara telanjang, siapa kita sebenarnya, terlepas dari apa pendapat orang lain terhadap kita.
Kristus adalah Firman Allah yang hidup.
Lihat juga: Kasih adalah Dasar Kebahagiaan
Lihat juga: Kasih Tuhan Terwujud melalui Pelayanan Harian Kita
Dia menilai orang-orang Farisi atau sebaliknya para pemungut cukai, bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat, tetapi juga ke dalam hati mereka.
Para pemungut cukai memang orang-orang berdosa, tetapi di dalam hati, mereka rindu diampuni dan kembali mendekat kepada Tuhan.
Persoalannya adalah karena profesinya, mereka dikucilkan dari masyarakat sehingga pintu pertobatan tertutup rapat.
Lihat juga: Sempat Ateis; Bertobat dan Mengimani Yesus 100%
Lihat juga: Sukacita Pertobatan
Orang-orang Farisi dihormati dalam masyarakat dan dipercaya sebagai orang-orang yang kudus, yang dekat dengan Tuhan.
Tetapi di dalam hati mereka ada kesombongan sehingga merasa diri mereka tidak berdosa dan menutup diri ketika Kerajaan Allah diwartakan kepada mereka.
Firman Tuhan senantiasa tersedia untuk kita.
Lihat juga: Membawa Persembahan untuk Tuhan
Lihat juga: Kebaikan Tuhan via Korek Gas
Seperti Kristus terus memanggil banyak orang untuk menjadi murid-muridNya, Dia juga memanggil kita agar setiap hari membekali diri dengan firmanNya.
Banyak orang yang bersikap seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menolak Kristus, Firman Allah yang hidup, karena merasa sudah tahu, tidak membutuhkan atau merasa terlalu direpotkan untuk menyediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membaca/mendengarkan Firman Tuhan dan mengendapkannya di dalam hati dan pikiran kita.
Dengan begitu, kita telah menutup hati dari kehadiran Kerajaan Allah yang membawa damai.
Lihat juga: Menjadi Saksi Kehadiran Kristus
Lihat juga: Pastor Kopong: Kehadiran Gereja Katolik Jadi Kegelisahan Ahli Taurat Zaman ini
Marilah kita sediakan waktu beberapa menit setiap hari untuk membiarkan Firman Allah bekerja sebagai pedang bermata dua yang dengan tajam mengupas segala kesalahan dan kelalaian kita, untuk dapat diperbaiki.
Teman-teman Lewi sesama pemungut cukai, dengan gembira dan bersemangat bergabung untuk ikut bersantap dengan Kristus.
Lihat juga: Membawa yang Lumpuh ke Hadapan Kristus
Lihat juga: Kerendahan Hati dan Pertobatan
Dengan begitu mereka pun memperoleh rahmat pengampunan.
Mari kita dengan sukacita ikut menikmati Perjamuan Makan bersama Kristus di dalam Ekaristi sesering mungkin, agar pada saatnya, kitapun boleh dilayakkan Bapa untuk menikmati Perjamuan Makan abadi di rumahNya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Ekaristi: Roti Kehidupan Abadi dan Sakramen Kesatuan
Lihat juga: Seri TPE 2020: Ketaatan Para Pelayan Biasa Ekaristi
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.