Kisah Para Rasul 15:7-21,
Yohanes 15:9-11
Shalom,
Di dalam perjamuan makan terakhir, Kristus mengajak murid-muridNya untuk selalu tinggal di dalam kasihNya seperti Dia tinggal dalam kasih Allah Bapa.
Tinggal dalam kasih Kristus berarti sadar bahwa kita dikasihi Kristus dan karena kasihNya, Dia pasti memberi yang terbaik untuk kita.
Kristus ingin kita tinggal di dalam kasihNya supaya sukacitaNya ada di dalam kita dan sukacita itu menjadi penuh (Yohanes 15:11).
Untuk dapat tinggal dalam kasih Kristus, kita harus mentaati perintah-perintahNya yang semuanya didasarkan atas kasih kepada Tuhan dengan segenap hati, pikiran, akal budi dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti Tuhan mengasihi kita.
Mengasihi Kristus bukan suatu perasaan, tetapi suatu komitmen untuk selalu mau percaya dan taat. Dengan begitu ketaatan itu tidak tergantung pada situasi kehidupan yang sedang dihadapi.
Saat menghadapi peristiwa-peristiwa yang paling sulit pun, kita tetap percaya, dibalik itu semua Allah selalu turut bekerja untuk kebaikan kita (Roma 8:28).
Lihat juga: Kebaikan Tuhan via Korek Gas
Lihat juga: Rahmat Allah via Uang Kertas dari Celengan Anak
Untuk menyelesaikan perbedaan pendapat di antara jemaat tentang apakah bangsa-bangsa bukan Yahudi harus mematuhi semua hukum Taurat, termasuk keharusan bersunat untuk dapat memperoleh keselamatan Kristus, Petrus mengundang semua rasul-rasul lainnya dan penatua-penatua di Yerusalem untuk menemukan kehendak Tuhan yang benar.
Petrus mengajak mereka berdoa bersama dan kemudian membahas hal ini dalam semangat persaudaraan.
Setelah beberapa hari membicarakan hal ini, akhirnya Petrus menyampaikan kepada semua jemaat apa kehendak Tuhan yang telah mereka temukan.
Lihat juga: Melakukan Kehendak Allah
Lihat juga: Berpuasa untuk Mendengarkan Kehendak Tuhan
Petrus memulainya dengan bersaksi, bagaimana dia bersama beberapa murid Kristus lainnya melihat sendiri di rumah Kornelius, seorang perwira Roma, Roh Kudus turun atas orang-orang bukan Yahudi, persis seperti yang dia dan para murid lain alami di ruang atas sebuah rumah di Yeruslaem, pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 10:24-47).
Peristiwa ini memberi tanda jelas bahwa Tuhan memang menghendaki menerima orang-orang bukan Yahudi sebagai umatNya.
Kalau Roh Kudus tidak membeda-bedakan antara Yahudi dengan yang bukan Yahudi, kenapa mereka harus menghalangi orang-orang bukan Yahudi untuk memperoleh keselamatan Kristus, dengan mengajukan syarat-syarat yang berat yaitu agar bangsa-bangsa itu harus menjadi bangsa Yahudi?
‘Kita percaya bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kita akan memperoleh keselamatan, sama seperti mereka (yang bukan Yahudi)’ (Kisah Para Rasul 15:11).
Lihat juga: Percaya Tanpa Syarat
Lihat juga: Syarat Mengikuti Kristus
Setelah Petrus, Paulus dan Barnabas bersaksi di depan jemaat bagaimana dengan perantaraan mereka, mujizat-mujizat terjadi pada bangsa-bangsa lain. Hal inipun menunjukkan kasih dan kuasa Allah juga dianugerahkan kepada bangsa-bangsa lain.
Yang terakhir, berbicaralah Yakobus sebagai pemimpin jemaat (Uskup) Yerusalem. Dia masih terhitung kerabat Yesus (bukan Yakobus Rasul yang telah menjadi martir (Kisah Para Rasul 12:2)).
Dengan memperhatikan kesaksian-kesaksian Petrus, Paulus dan Barnabas, Yakobus berkesimpulan: Mereka (orang-orang Yahudi) tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi bangsa-bangsa lain yang mau percaya kepada Kristus.
Kepada orang-orang bukan Yahudi, jangan dituntut untuk mentaati semua hukum Taurat dan tradisi Yahudi tetapi ada beberapa hal yang tetap harus ditaati sesuai pesan nabi Musa:
-Mereka tidak boleh makan daging yang sebelumnya telah dipakai sebagai bahan persembahan dalam kuil orang-orang kafir (Imamat 17:8-9).
-Mereka tidak boleh makan darah atau daging hewan yang mati tanpa mengeluarkan darahnya (karena orang Yahudi mengimani, di dalam darah, ada roh) (Imamat 17:10-11).
-Mereka harus menjauhi percabulan.
Lihat juga: Tetap Taat dan Percaya di Saat Kecewa
Lihat juga: Iman dan Ketaatan
Di dalam kehidupan bersama, perbedaan pendapat dan kepentingan pasti terjadi. Tetapi di dalam kasih, perbedaan bukan sesuatu yang dapat memecah belah, saling menyakiti dan merendahkan.
Sebaliknya, perbedaan harus dilihat sebagai sarana yang diciptakan Tuhan agar kita dapat saling melengkapi, sehingga kitapun dapat semakin melihat keagungan segala rancangan Tuhan yang jauh melampaui akal budi kita.
Sesungguhnya, bukan perbedaan yang menyebabkan terjadinya perpecahan dan kehancuran, tetapi ketiadaan kasih yang menjadi penyebab utamanya. Karena itu, marilah terus bertekun dalam doa, ibadat dan merenungkan Firman Allah setiap hari, supaya kita dapat semakin mentaati perintah-perintah Kristus, hidup di dalam kasihNya untuk menikmati sukacitaNya.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Berdoa dan Mendengarkan FirmanNya
Lihat juga: Berlindung Pada Firman Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












