Kisah Para Rasul 5:34-42,
Yohanes 6:1-15
Shalom,
Kristus mengajak murid-muridNya ke seberang danau Galilea, ke tempat yang sunyi.
Tetapi orang-orang banyak yang telah melihat mujizat-mujizat penyembuhan yang dilakukanNya, tetap mengikuti Dia.
Sampai saat itu, Injil Yohanes hanya mencatat satu mijizat penyembuhan yang dilakukan Kristus, yaitu penyembuhan anak pegawai istana (Yohanes 4:46-53).
Sedangkan di perikop ini dikatakan, Kristus telah banyak membuat mujizat penyembuhan.
Hal Ini menunjukkan tidak semua yang dilakukan dan diajarkan Kristus dapat dicatat dalam Injil (Yohanes 21:25).
Lihat juga: Menghayati Mujizat di Kana
Lihat juga: Menghayati Mujizat Allah
Lalu Kristus naik ke sebuah gunung dan duduk di lerengnya.
Ketika melihat ada begitu banyak orang yang mengerumuniNya, Dia tergerak untuk memberi mereka makanan.
Dia bertanya kepada Filipus, di mana dapat membeli roti, karena Filipus berasal dari Betsaida, yang letaknya dekat dengan daerah itu.
Dalam Injil Yohanes ini, inisiatif memberi makan berasal dari Kristus sendiri, bukan dari rasul-rasulNya.
Jawaban Filipus yang tidak sanggup membeli roti bagi ribuan orang tersebut, mengingatkan ketika nabi Musa nyaris putus asa saat ratusan ribu bani Israel menuntut dia memberi daging di tengah padang gurun (Bilangan 11:13).
Saat itu, Allah menjawab tuntutan itu dengan memberi daging burung-burung puyuh selama sebulan penuh.
Allah bukan hanya memberi yang kita butuhkan tetapi memberi dengan berkelimpahan.
Lihat juga: Hidup dalam Terang Kasih Allah
Lihat juga: Berilah Diri untuk Diubah Allah
Andreas yang mendengar pertanyaan Kristus, mengatakan bahwa di tempat itu ada seorang anak kecil yang membawa bekal 5 roti jelai dan 2 ekor ikan.
Bekal itu hanya cukup untuk mengenyangkan satu atau dua orang dewasa saja.
Kristus meminta para rasulNya menyuruh orang-orang itu duduk di atas rumput yang terbentang di situ.
Hal ini mengingatkan apa yang ditulis Mazmur, seorang gembala membaringkan domba-dombanya di padang yang berumput hijau (Mazmur 23:2).
Lalu Kristus mengambil roti dan ikan dari anak itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada semua yang ada di situ.
Lihat juga: Mensyukuri Kebangkitan Kristus
Lihat juga: Bersyukur dengan Ketaatan
Injil Yohanes mencatat, Kristus sendiri yang membagi-bagikan roti dan ikan itu sehingga mereka dapat makan sampai kenyang.
Apa yang dilakukan Kristus ini menjadi lebih jelas maknanya dalam wejangan Kristus keesokan harinya di Kapernaum, bahwa atas inisiatifNya dan supaya memenuhi kehendak Bapa, Dia akan memberi semua orang roti kehidupan (Yohanez 6:27) bahkan DiriNya sendirilah Roti Kehidupan itu (Yohanes 6:51).
Dengan kuasa Allah, Musa memberi manna dan burung puyuh kepada Bani Israel agar mereka dapat mencapai dan tinggal di Tanah Terjanji.
Kristus memberi kita semua makanan berupa Tubuh dan DarahNya sendiri, agar kita mampu mencapai dan masuk ke dalam Rumah Bapa.
Dia membimbing kita dengan RohNya melewati perjalanan hidup di dunia, seperti gembala yang menemani dan melindungi domba-dombanya.
Dia lebih besar dari segala nabi, termasuk nabi Musa.
Lihat juga: Menggembalakan Domba-domba Kristus
Lihat juga: Nabi yang Dihargai di Negeri Siber
Setelah orang-orang itu makan dengan kenyang, Kristus meminta kepada murid-muridNya:
‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih (bukan sisa-sisa makanan) supaya tidak ada yang hilang’.
Setelah dikumpulkan, ternyata kelebihan roti dan ikan ada 12 bakul penuh, yang mengingatkan adanya 12 suku bangsa Israel saat itu.
Makanan yang berasal dari Kristus yang merupakan lambang Roti Kehidupan pemberi hidup kekal, harus dijaga oleh murid-murid Kristus agar tidak ada yang hilang.
Kristus adalah Firman Allah yang menjadi Daging.
Dengan demikian, Firman Allah yang diajarkan Kristus kepada semua orang, harus terus dijaga oleh murid-muridNya agar tidak ada yang terlewat atau diabaikan, sampai akhir jaman.
Bahkan Firman itu harus terus di bagi-bagikan kepada semua orang, baik mereka yang secara aktif mencariNya (seperti ribuan orang yang datang ke bukit itu) atau yang bersifat pasif karena belum mengenal siapa Kristus dan apa yang dianugerahkanNya kepada kita.
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Lihat juga: Yesus Mencela Kedegilan Hati Murid-Nya
Para rasul yang dihadapkan ke Mahkamah Agama karena bersaksi tentang kebangkitan Kristus di Bait Allah, dengan tegas dan berani mengatakan bahwa mereka memilih mengikuti perintah Allah untuk terus mewartakan Injil dari pada mematuhi perintah Mahkamah Agama yang melarang mereka bersaksi.
Hal ini membuat para pemimpin agama Yahudi itu menjadi sangat marah dan berniat membunuh mereka semua.
Tetapi Gamaliel seorang ahli Taurat yang sangat dihormati semua orang di Mahkamah itu, meminta sidang itu ditunda.
Ketika para rasul sudah dibawa keluar, dia mengingatkan bahwa sebelumnya sudah beberapa kali ada orang yang mengaku diri sebagai utusan Allah (Mesias) yang akan membebaskan Israel dari penjajahan.
Namun ketika mereka terbunuh, dalam waktu singkat semua pengikutnya cerai berai dan akhirnya menghilang sendiri.
‘Karena itu aku berkata kepadamu: Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka dari manusia, tentu akan lenyap (dengan wafatnya Kristus), tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak dapat melenyapkan orang-orang ini. Mungkin ternyata juga nanti bahwa kamu melawan Allah’ (Kisah Para Rasul 5:38-39).
Lihat juga: Ada Kuasa Allah dalam Kata-kataNya
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Para rasul yang kemudian diikuti murid-muridnya, secara turun temurun dan terus menerus mengajarkan Firman yang disampaikan Kristus.
Sudah sering dunia berusaha untuk menindas dan mencoba melenyapkan Injil, tetapi sejarah mencatat setelah 2000an tahun sampai saat ini, Firman ini tetap ada.
Perjuangan para rasul dan murid-murid penerusnya, banyak yang harus berakhir dengan kehilangan nyawa.
Tetapi dengan kematian sebagai martir, mereka bersatu dengan salib Kristus sehingga pasti mengalami kebangkitan bersamaNya juga.
Para murid Kristus, termasuk kita saat ini, punya tanggung jawab besar untuk menjaga dan terus mewartakan Firman, agar santapan Ilahi ini tidak sampai hilang dimakan waktu dan karena kelalaian kita semua.
Karena itu marilah kita saling bergandengan tangan. Dengan kuasa dan bimbingan Roh Kudus, kita pasti mampu.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Mengasihi Karena Dikasihi Allah
Lihat juga: Relasi Mesra dengan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












