Kisah Para Rasul 16:1-10,
Yohanes 15:18-21
Shalom,
Kristus menjadikan relasi antara Bapa dengan diriNya sebagai contoh relasi antara Dia dengan kita sebagai murid-muridNya.
Setelah menjelaskan relasi itu, Kristus menyampaikan juga relasi antara Dia dengan dunia (yaitu orang-orang yang menolak untuk percaya kepadaNya) untuk dijadikan contoh relasi antara murid-muridNya dengan orang-orang yang akan menolak pewartaan mereka:
‘Jika dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dulu membenci Aku dari pada kamu’.
Lihat juga: Mengasihi Musuh
Lihat juga: Tetap Taat dan Percaya di Saat Kecewa
Kristus telah mengajarkan para muridNya agar mereka selalu saling mengasihi, seperti Dia mengasihi mereka (Yohanes 13:34).
Yang dikasihi Kristus bukan hanya murid-muridNya saja, tetapi semua orang tanpa kecuali dan tanpa syarat, termasuk mereka yang menolakNya.
Dengan demikian, para muridNya juga harus melakukan hal yang sama.
Kasih seperti yang diteladani Kristus ini akan mendapat ujian berat saat menghadapi penolakan-penolakan keras, kasar dan kadang tanpa dasar.
Saat menghadapi keadaan seperti ini Kristus menasehati kita: ‘Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya’.
Kalau orang-orang Yahudi, khususnya para pemimpin agama mereka saat itu menolak Kristus, maka sebagai hamba-hambaNya, kita pun pasti akan mengalami penolakan-penolakan.
Lihat juga: Menjadi Sahabat Kristus
Lihat juga: Memberitakan Injil ke Segala Makhluk
Di dalam pewartaan InjilNya, Kristus dicurigai, dicemburui, perbuatan-perbuatan kasihNya dengan cepat dilupakan banyak orang dan Dia pun ditinggalkan oleh murid-muridNya ketika mereka tidak dapat mengerti ajaran-ajaranNya (Yohanes 6:60).
Meskipun begitu Dia tetap setia dan taat untuk melaksanakan kehendak Bapa. Demikian juga yang harus kita lakukan.
Sekalipun perbuatan kasih kita dicurigai mempunyai maksud-maksud lain dibaliknya, meskipun dunia mentertawakan perbuatan kita karena dianggap sebagai sesuatu yang bodoh, tidak realistis atau kolot, walaupun perbuatan kasih kita tidak dihargai, kita tetap harus setia dan taat akan perintah Kristus untuk tetap mengasihi dan mengampuni seperti Dia mengasihi kita.
Lihat juga: Tuhan Setia Mengirim Pertolongan
Lihat juga: Bersyukur dengan Ketaatan
Tuhan tidak menilai keberhasilan atau kegagalan kita dalam mengasihi sesama dari penerimaan orang lain.
Allah melihatnya dari motivasi kita di saat berbuat kasih. Karena itu, penolakan dunia perlu untuk dijadikan bahan memeriksa diri.
Bisa saja kita ditolak karena orang melihat kita sendiri tidak melakukan apa yang kita ajarkan, sehingga mereka melihatnya sebagai suatu kemunafikan.
Atau mungkin kita mewartakan Injil dengan motivasi mencari popularitas atau menuntut balasan dari orang-orang yang kita layani.
Dalam hal seperti ini yang mereka tolak sebenarnya bukan ajaran Kristus tetapi karena kemunafikan dan ketidaktulusan hati kita.
Lihat juga: Kerendahan Hati Yang Menyelamatkan
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Setelah mendapat ketetapan dari para rasul tentang keselamatan, Paulus dengan ditemani Silas melakukan perjalanan kedua kalinya untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang telah dibentuknya di berbagai daerah dalam pewartaannya yang pertama.
Ketika sampai di Listra, Paulus tertarik dengan seorang pemuda bernama Timotius. Ibunya seorang Yahudi yang telah percaya kepada Kristus sedangkan ayahnya seorang Yunani.
Timotius telah dikenal sebagai orang baik di Listra dan di Ikonium (Kisah Para Rasul 16:1-2).
Paulus mengajak dia untuk menyertainya dalam pewartaan Injil keberbagai daerah, karena Paulus tahu dalam pewartaan Injil selain diperlukan para pengurus jemaat untuk menjadi gembala-gembala setempat, juga diperlukan orang yang mau dan mampu berkeliling untuk meneguhkan iman jemaat-jemaat di berbagai daerah yang telah terbentuk.
Lihat juga: Iman di Saat Tidak Mampu Mengerti
Lihat juga: Iman dalam Melakukan Kebenaran
Paulus lalu meminta Timotius untuk disunat. Hal ini untuk memudahkan dia dapat diterima oleh orang-orang Yahudi karena pada diri Timotius ada ‘darah Yahudi’.
Dengan begitu orang-orang Yahudi konservative dapat lebih menerima dia.
Paulus tidak ingin orang-orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Kristus ‘hanya’ karena tidak suka bahwa ajaran-ajaran Kristus disampaikan oleh orang berdarah Yahudi yang belum bersunat.
Dalam hal iman, Paulus tidak mau berkompromi sama sekali. Tetapi untuk membuat pewartaan Injil dapat diterima oleh semua orang, cara-cara yang digunakan perlu disesuaikan dengan situasi kondisi setempat.
Lihat juga: Beritakan Injil kepada Segala Makhluk
Lihat juga: Menghadirkan Allah di Tengah Dunia
Kristus mengutus kita sebagai murid-muridNya untuk mengajarkan kepada semua orang apa yang Dia ajarkan.
Di dalam melakukan tugas perutusan itu, penolakan-penolakan dari yang halus sampai yang kasar dan keras sangat mungkin dialami.
Dalam hal ini Kristus meminta kita untuk mengikuti teladanNya. Sekalipun Dia ditolak dengan sangat kejam, Dia tetap taat dan setia kepada kehendak Allah untuk mewartakan Injil.
Sebagai murid-murid Kristus, kita tetap harus mengasihi semua orang, termasuk mereka yang menolak kita.
Jangan kalah terhadap kejahatan tetapi kalahkan kejahatan dengan kebijaksanaan dan kasih.
Hanya dengan begitu kita dapat menjadi pemenang sejati seperti Kristus.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Kristus Menyediakan Santapan untuk Kita
Lihat juga: Kuasa Kristus Mampu Mengubah Segalanya
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












