Kisah Para Rasul 2:1-11,
Roma 8:8-17,
Yohanes 14:15-16, 23b-26.
Shalom,
Dalam perjamuan makan malam terakhir, Kristus berjanji: ‘Penolong, yaitu Roh Kudus akan diutus oleh Bapa di dalam namaKu. Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu’.
Dengan janji ini, saat ini kita dapat menikmati dahsyatnya karya-karya Roh:
-Roh Kudus mengingatkan kita akan dalamnya kasih yang diajarkan Kristus, sehingga kita dimampukan untuk berbuat kasih kepada sesama tanpa mengharap balasan apapun.
-Roh Kudus bekerja mengingatkan kerahiman Allah sehingga meneguhkan kita untuk dapat mengampuni orang yang telah melukai atau mengecewakan kita.
-Roh Kudus melayakkan kita menjadi anak-anak Allah, bukan lagi hamba-hamba Allah (Roma 8:15).
Seorang hamba bekerja untuk mendapatkan upah dan selalu dibayangi ketakutan menerima hukuman kalau lalai dan berbuat salah.
Tetapi seorang anak bekerja karena ingin membalas kasih orangtuanya, karena sadar betapa besar kasih mereka kepada dirinya, sehingga takut mengecewakannya.
Lihat juga: Kebahagiaan Hamba Allah
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Wafat Kristus di kayu salib membuat para rasul sangat sedih, bingung, takut dan kecewa.
Mereka frustasi, karena selama 3 tahun telah terbiasa selalu ada didekat Kristus.
Melalui berbagai penampakan selama 40 hari setelah kebangkitanNya, Kristus meyakinkan para rasul bahwa Dia hidup dan dengan naik ke surga, Dia masuk dalam kehidupan kekal.
Meskipun begitu para rasul tetap bingung apa yg harus dilakukan. Bagaimana dan dari mana harus mulai mewartakan Firman di tengah kebencian pemimpin-pemimpin agama Yahudi saat itu.
Kristus mengerti apa yang ada di dalam hati dan pikiran para rasulNya.
Karena itu sebelum Dia naik ke surga, Dia berpesan agar mereka tetap tinggal di Yerusalem, berkumpul dan berdoa memohon kepada Bapa untuk dianugerahkan Roh Kudus, menerima baptisan Roh yang akan memperbarui cara berpikir dan sikap hati mereka (Kisah Para Rasul 1:4-5).
Lihat juga: Berpengharapan dalam Kuasa Roh
Lihat juga: Roh Kudus Memampukan Kita Mengenal Allah
Orang-orang Yahudi mempunyai kewajiban untuk berziarah ke Bait Allah pada hari peringatan mereka menerima 10 Firman Allah melaui nabi Musa di Sinai.
Firman itu memperbarui hati dan pikiran mereka sehingga memungkinkan mereka masuk ke Tanah Terjanji.
Peristiwa ini diperingati sebagai hari Pentakosta.
Karena itu di hari Pentakosta pertama setelah Kristus disalibkan, di Bait Allah berkumpul ribuan orang Yahudi, baik yang berasal dari daerah Palestina maupun yang telah tinggal di negara-negara lain (yang disebut sebagai orang-orang Yahudi diaspora).
Kaum Yahudi diaspora meski masih mempertahankan budaya dan iman nenek moyangnya tetapi sudah berbahasa sesuai tempat mereka tinggal.
Mereka umumnya sudah tidak bisa berbahasa Aram, bahasa nenek moyang mereka.
Lihat juga: Roh Penolong yang Membebaskan
Lihat juga: Menerima Bimbingan Roh Kudus
Pada hari Pentakosta Yahudi itu para rasul bersama bunda Maria dan beberapa orang wanita yang dengan setia mengikuti Kristus dari Galilea, tidak ke Bait Allah, meskipun mereka ada di Yerusalem.
Mereka memilih tetap berdoa di ruang atas suatu rumah, sesuai pesan Kristus.
Tiba-tiba Roh Kudus ‘menampakkan diri’, mula-mula dalam rupa suara tiupan angin (padahal semua pintu dan jendela tertutup ) kemudian dalam rupa lidah-lidah api yang hinggap pada semua yang sedang berdoa.
Lidah api itu tidak membakar mereka karena di dalamnya ada Roh Allah. Ini mengingatkan ketika nabi Musa melihat ada api menyala di padang rumput, tetapi semak belukar di sekitarnya tidak ikut terbakar.
Setelah penampakan itu, mereka tiba-tiba dapat berbahasa roh (bahasa ‘lain’ seperti yang diberikan Roh) yang menunjukkan bahwa Roh Kudus telah bekerja memperbarui, memurnikan hati dan pikiran mereka, seperti emas yang dimurnikan melaui api.
Peristiwa di ruang atas yang relatif singkat ini ternyata telah mengubah total para rasul.
Mereka yang tadinya bersembunyi karena takut dengan orang-orang Yahudi, menjadi sangat berani.
Mereka bukan hanya keluar dari rumah, tetapi malah berani bersaksi tentang kebangkitan Kristus di hadapan ribuan orang yang sedang berziarah di Bait Allah.
Kuasa Roh mengalir dari mereka, sehingga ketika mereka bersaksi tentang Kristus yang telah bangkit dari kematianNya, oleh para peziarah dapat didengar dalam bahasa mereka masing-masing.
Mereka sangat terheran-heran dengan mujizat itu dan karena dapat mengerti apa yang disaksikan para rasul, membuat ribuan orang tersebut menjadi percaya kepada kesaksian para rasul dan mau bertobat.
Lihat juga: Roh Kudus Pembimbing dan Pemersatu
Lihat juga: Waspadalah Kebutaan Rohani
Di ruang atas itu, para rasul mengalami suatu pembaruan total yang benar-benar mengubah sikap hati dan pikiran mereka.
Mereka kemudian dipakai Allah untuk menyalurkan karunia Roh, sehingga ribuan orang mengalami pertobatan.
Apa yang sebenarnya terjadi di Ruang Atas dan di halaman Bait Allah, tidak dapat dijelaskan dengan logika manusia, karena kuasa Roh tidak bisa dibatasi.
‘Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh’ (Yohanes 3:8).
Kita tidak dapat membatasi kuasa Roh dan tidak dapat melihat Roh dengan panca indera kita, tetapi kuasa dan karyaNya sangat jelas dan bahkan amat dahsyat.
Lihat juga: Bertobat dengan Berbuat Kasih
Lihat juga: Bertobatlah, Manfaatkan Kerahiman Tuhan
Di dalam kehidupan, sangat mungkin pada suatu saat kita terbelenggu di dalam kesedihan, kebingungan, ketakutan yang membuat kita tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan.
Atau kita terjerat di dalam kemarahan, dendam, iri, dengki dan terluka yang membuat kita kehilangan kedamaian. Inilah keadaan seperti yang dialami para rasul menjelang hari Pentakosta Yahudi saat itu.
Seperti yang dilakukan para rasul, dalam situasi seperti itu, mari kita berdoa dalam kebersamaan dengan teman-teman seiman, untuk memohon agar Roh Kudus, Roh Penolong mencurahkan karunia-karuniaNya sehingga mengubah sikap hati dan cara berpikir kita dan memampukan kita melihat jalan keluar dari Allah, sehingga kita dapat kembali diliputi kedamaian.
Jangan paksakan Roh bekerja menurut pikiran kita.
Jangan bertanya bagaimana Roh dapat bekerja dan merubah segalanya, karena kuasa Roh memang tidak dapat dilihat dengan nyata dan tidak dapat dibatasi.
Peristiwa Pentakosta yang terjadi di ruang atas sekitar 2000 tahun yang lalu, bukan hanya suatu cerita sejarah.
Imanilah bahwa Roh akan terus bekerja, hadir di tengah kita untuk terus memper barui kita, sampai akhir zaman.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Katekese: Roh Kudus
Lihat juga: Luar Biasa Indah Roh Kudus Memimpin Kita
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.












