Kebijaksanaan Salomo 6:2-11
Lukas 17:11-19
Shalom,
Dalam perjalanan dari provinsi Galilea ke Yerusalem yang di Yudea, Kristus melewati perbatasan antara provinsi Samaria dan Galilea.
Karena diperbatasan, penduduk di situ campuran antara orang-orang Yahudi dan Samaria.
Dipinggiran suatu desa, Kristus didatangi oleh 10 orang kusta.
Sebagai orang-orang yang dikucilkan karena sakit kustanya, mereka tidak boleh menghampiri Kristus. Mereka hanya dapat berteriak-teriak dari kejauhan: ‘Yesus, Guru, kasihanilah kami!’.
Mendengar teriakan orang-orang tersebut, Kristus mengatakan kepada mereka:
‘Pergiah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam’.
Saat itu penyakit kusta belum ada obatnya karena belum diketahui apa penyebabnya. Penyakit ini sangat menular dan dapat dialami oleh semua orang.
Karena itu, orang-orang Yahudi percaya bahwa orang yang terkena penyakit ini adalah orang-orang berdosa yang dikutuk oleh Allah.
Dengan pemahaman ini, kalau ada orang yang bisa sembuh, berarti Tuhan telah mengampuni dosanya.
Karena itu kesembuhan orang itu harus disahkan oleh imam dan harus melalukan serangkaian ibadat untuk memulihkan relasi mereka dengan Tuhan (Imamat 14:2-4). Baru setelah itu mereka boleh berkumpul lagi dengan orang-orang lain.
Kristus tidak menghampiri ke 10 orang kusta itu. Dia juga tidak menyebutkan kata-kata untuk menyembuhkan.
Tetapi dengan meminta mereka menghadap para imam, tersirat bahwa mereka akan disembuhkan.
Lihat juga: Cinta Kasih Tuhan Mentahirkan Keluarga
Lihat juga: Bersyukur dengan Berbelas Kasih
Ke 10 orang kusta ini percaya dengan kata-kata Kristus. Mereka pergi untuk menjumpai para imam.
Ternyata di tengah jalan, tanpa tahu bagaimana caranya, mereka sadar mereka bukan hanya sembuh tetapi telah menjadi tahir.
Artinya tidak ada lagi bekas-bekas kusta di tubuh mereka yang menimbulkan cacat. Mereka mengalami apa yang jauh lebih baik dari yang diharapkan semula.
Dalam penyembuhan ini, Kristus ingin ke 10 orang itu mengalami suatu proses untuk membuktikan iman kepercayaan mereka.
Di dalam kehidupan saat ini, sering Allah juga ingin kita menjalani suatu proses untuk membuktikan apakah kita sungguh percaya kepadaNya.
Banyak orang yang menderita sakit yang sebenarnya berakar pada luka bathin, karena tidak dapat mengampuni orang yang bersalah kepadanya atau tidak dapat menerima situasi kondisi kehidupannya.
Dalam situasi seperti itu, ketika kita berlutut memohon kesembuhan kepada Tuhan, maukah kita mentaati perintah Tuhan untuk lebih dulu mengampuni, banyak bersyukur dan berbuat banyak kasih?
Allah bukan hanya melihat akibat-akibat dari suatu penyakit tetapi Dia mengetahui penyebabnya. Namun kita sering tidak sabar dan terus mendesak Allah segera menghilangkan akibat, tanpa mau peduli penyebabnya.
Kalau saja ke 10 orang kusta itu tidak mau taat kepada perintah Kristus untuk pergi menemui para imam disaat mereka belum disembuhkan, mereka tidak akan mengalami mujizat pentahiran.
Lihat juga: Antara Mujizat dan Iman
Lihat juga: Menghayati Makna Mendalam Mujizat Pergandaan Roti dan Ikan
Demikian juga dengan kita. Kalau dengan sepenuh hati kita percaya dan taat kepada Firman Allah, Tuhan akan memberi bukan hanya sebatas apa yang diharapkan.
Dia mampu memberi segala hal yang bahkan tidak mampu kita pikirkan sebelumnya.
Dia mampu bukan hanya menyembuhkan sakit penyakit kita. Dia dapat memberi kebahagiaan dan kedamaian.
Tetapi semua sesuai dengan waktu dan cara terbaikNya yang sering berbeda dengan yang kita inginkan.
Setelah sadar mereka telah tahir, ke 9 orang itu mempercepat langkah untuk menunjukkan diri kepada para imam supaya dapat segera berkumpul kembali dengan keluarga.
Tetapi ada satu orang yang justru berbalik untuk mencari dan menemui Kristus lagi untuk bersujud, berterima kasih kepadaNya.
Orang itu sadar bahwa Tuhan telah mengampuni dosanya dan mentahirkan dia melalui Kristus.
Karena itu dia melihat sosok Allah yang Maha Rahim dan Maha Kuasa dalam Diri Kristus.
Melihat orang itu kembali dan bersujud, dengan penuh kasih Kristus mengatakan:
‘Berdirilah dan pergilah (menghadap para imam), imanmu telah menyelamatkan engkau’.
Ada 10 orang yang mengalami pentahiran tetapi hanya satu yang mendapat keselamatan yaitu kebahagiaan sejati, karena sadar bertapa besar kasih dan kuasa Allah.
Yang menarik, orang yang kembali kepada Kristus, adalah orang Samaria, bangsa yang dianggap kafir oleh orang-orang Yahudi, yang selalu bangga bahwa merekalah bangsa yang dikasihi Allah.
Hal seperti ini juga sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang miskin atau yang sakit-sakitan justru lebih dapat bersyukur kepada Tuhan dari pada mereka yang dilimpahi kekayaan, kesuksesan, kekuasaan dan kesehatan yang baik.
Lihat juga: Bersyukur dan Berbagi
Lihat juga: Bersyukurlah dengan Merelakan Diri
Kitab Kebijaksanaan memberi peringatan kepada orang-orang yang sedang berkuasa, kepada mereka yang sedang sukses dan hidup dalam kelimpahan:
‘Dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan, dan pemerintahan datang dari Yang Maha Tinggi, yang akan memeriksa segala perkerjaanmu serta menyelami rencanamu’ (Kebijaksanaan Salomo 6:3).
Syukurilah segala hal yang ‘dititipkan’ Tuhan kepada kita saat ini dengan menggunakannya sesuai dengan kehendakNya.
Jangan jatuh ke dalam kesombongan karena apa yang dapat disombongkan dengan ‘barang titipan’?
Ingatlah, pada Penghakiman Terakhir, segala yang dititipkan Allah harus kita pertanggungjawabkan.
Renungkan, pelajari dan resapilah Firman Tuhan setiap hari, agar tidak jatuh dalam menghadapi berbagai tantangan dan godaan, karena melalui FirmanNya, Tuhan mendidik, menegur dan memberi petunjuk-petunjuk kepada kita.
Mari periksa diri dengan jujur, apakah kita orang yang mengerti untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala yang telah dianugerahkanNya kepada kita?
Maukah kita dengan penuh iman diproses Allah saat bersujud memohon dihadapanNya?
Jangan terus mendesak-desak Allah, karena Dia yang tahu waktu dan cara yang terbaik.
Dengan bersyukur kita lebih dapat melihat kasih dan kuasa Tuhan sehingga menguatkan kita untuk semakin percaya dan taat kepadaNya. Dengan demikian hidup kitapun akan senantiasa damai dan bahagia.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Berkat Imam, Kuasa Rahmat Kristus Mengalir dalam Kehidupan
Lihat juga: Kuasa Panggilan Allah
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










