Kejadian 32:22-32,
Matius 9:32-38
Shalom,
Yakub adalah seorang yang cerdik yang tidak segan menggunakan cara apapun untuk memperoleh apa yang dia kehendaki.
Setelah menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat sulung, atas petunjuk Ribka ibunya, dia melarikan diri ke rumah Laban (kakak Ribka) untuk menghindar dari Esau yang ingin membunuhnya.
Tetapi di tempat Laban, Yakub lah yang ditipu Laban sehingga setelah bekerja 7 tahun, bukan Rahel yang dia dapatkan sebagai istri, tetapi Lea, kakaknya. Dia harus bekerja 7 tahun lagi supaya dapat memperistri Rahel.
Setelah lama di rumah Laban, suatu ketika Allah berbicara kepada Yakub:
‘Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu dan aku akan menyertai engkau’ (Kejadian 31:3).
Yakub yang merasa selama ini diperlakukan tidak adil oleh mertua dan ipar-iparnya dalam hal upah kerja, lalu balas menipu Laban sehingga saat dia pergi dia bisa membawa sejumlah besar domba-domba yang bagus ke tanah airnya.
Meskipun begitu, dalam perjalanan pulang itu, Yakub sangat takut untuk bertemu dengan Esau.
Ketika sudah semakin dekat dengan tempat nenek moyangnya, saat harus menyeberangi sungai Yabok, Yakub sengaja menyeberangkan istri-istri dan anak-anaknya, budak-budaknya dan segala ternaknya lebih dulu, sedangkan dia bertahan di seberang sendirian.
Tujuannya adalah kalau Esau tetap mendendam kepadanya, dia berharap Esau akan berbelas kasih kepadanya saat melihat anak-anaknya yang masih kecil-kecil itu atau merasa puas dengan merampas kawanan ternak miliknya yang banyak dan bagus-bagus itu.
Lihat juga: Menjadi Wajah Belas Kasih Allah
Lihat juga: Berbelas Kasih
Ketika Yakub berada seorang diri, datanglah malaikat Allah dalam rupa seorang laki-laki yang menyerang dan bergulat dengan dia sampai fajar.
Pergulatan ini bukan suatu kejadian nyata, tetapi suatu pergumulan hebat di dalam bathin Yakub sendiri.
Dia merasa bersalah kepada Esau dan tidak berdaya kalau benar-benar diserang Esau yang tubuhnya jauh lebih besar dan kuat, karena dia seorang pemburu.
Dalam ketakutan seperti itu, dia berdoa dengan khusuk kepada Tuhan karena sadar bahwa dia hanya dapat mengandalkan janji Tuhan yang akan melindunginya dan akan membuat keturunannya menjadi seperti pasir di laut yang karena banyaknya, tidak dapat terhitung lagi (Kejadian 28:14).
Ketakutan yang ada dalam hati dan pikiran Yakub, bergulat dengan kepercayaan akan janji Allah.
Inilah yang sebenarnya dimaksud bagaimana Yakub bergulat dengan malaikat Allah.
Yakub dengan gigih tidak mengizinkan malaikat Allah itu pergi sebelum memberinya berkat, meski fajar sudah menyingsing.
Hal ini menggambarkan bagaimana sepanjang malam Yakub terus berseru-seru kepada Allah dalam doa dan dia ingin mendapat tanda yang lebih pasti bahwa Tuhan akan menggenapi janji-janjiNya.
Lihat juga: Berpegang Teguh pada Janji Allah
Lihat juga: Memaknai “Tanda” Sesuai Kehendak Tuhan
Akhirnya,Yakub dikatakan sebagai pemenang karena dia berhasil mengalahkan ketakutannya dan memutuskan untuk lebih mau mempercayakan diri dalam perlindungan Tuhan.
Sebelum pergi, malaikat yang bergumul dengannya memberi nama baru bagi Yakub: ‘Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub (artinya: cerdik), tetapi Israel (yamg artinya: orang yang berjuang bersama Allah)’.
Pergantian nama ini memberi gambaran tentang pertobatan yang terjadi dalam diri Yakub.
Setelah bergulat dengan pribadinya yang lama, kini dia mau menjadi orang yang sungguh-sungguh bergantung kepada Allah.
Sebelum memberkati Yakub malaikat itu memukul sendi pangkal paha Yakub sehingga dia menjadi orang yang pincang.
Perubahan cara berpikir dan sikap hati Yakub perlu selalu diingatkan dengan tanda jasmani yang nyata dan yang tidak terhapuskan.
Kepincangan kakinya akan selalu mengingatkan dia untuk tidak hanya mengandalkan kecerdikan dan kemampuan dirinya sendiri tetapi mau taat dan bergantung kepada Tuhan.
Lihat juga: Ketaatan Membawa Keselamatan
Lihat juga: Tetap Taat dan Percaya di Saat Kecewa
Setelah Kristus membangkitkan anak wanita kepala rumah ibadat dari kematiannya, Dia melanjutkan perjalananNya.
Di tengah jalan itu Dia mencelikkan mata dua orang buta dan menyembuhkan juga orang yang menjadi bisu karena kerasukan setan.
Dengan kuasaNya, Kristus mengusir setan itu dan orang bisu itu kembali dapat berbicara.
Banyak orang yang menyaksikan mujizat-mujizat ini mengakui: ‘Yang demikian belum pernah dilihat orang Israel’.
Saat ini, kita adalah murid-murid Kristus yang diberi tugas untuk mewartakan Injil.
Tetapi kenyataannya, sering kali setan membuat kita menjadi begitu takut dan ragu untuk bersaksi siapa Kristus dan apa yang telah diajarkanNya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan kasih.
Lihat juga: Menghayati Doa yang Diajarkan Kristus
Lihat juga: Guru Kristiani Mengajar di Madrasah: Ini Rencana Tuhan dalam Hidup Saya
Kita menjadi seperti orang yang lumpuh dan bisu.
Kita sering tidak berani mengatakan kebenaran dan takut berbuat lebih baik, lebih jujur dan lebih mau mengampuni, karena selain harus bergumul melawan kedagingan dalam diri, ada kekawatiran kita akan ditertawakan, dicurigai, dibenci dan disisihkan orang-orang di sekitar kita.
Dalam hal seperti ini mari kita ingat bahwa Kristus yang telah menunjukkan kasih dan kuasaNya secara begitu hebat, tetap saja difitnah dan dikatakan oleh orang-orang Farisi bahwa Dia mampu melakukannya karena memakai kuasa Penghulu (pemimpin) setan.
Dengan kata lain, Kristus pun dianggap sebagai salah satu setan!
Seperti Kristus yang tidak mau peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang Farisi, demikian juga kita tidak perlu khawatir dengan apa tanggapan orang kalau kita berbuat lebih baik, jujur, penuh kasih dan pemaaf.
Biarlah orang-orang tersebut dipenjara dengan pandangannya sendiri, karena urusan kita adalah melaksanakan tugas yang dipercayakan Kristus kepada kita.
Lihat juga: Jangan Gelisah, Percayalah pada Allah
Lihat juga: Percaya Pada Kebijaksanaan Allah
Kristus mengatakan tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.
Hal ini terjadi karena banyak murid Kristus yang ragu-ragu dan terlalu kawatir dengan banyak hal kalau mau ikut bekerja di ladangNya.
Mari kita belajar dari Yakub. Dalam kebimbangan antara ketaatan dan kepercayaan kepada Yahwe dengan ketakutan akan resiko yang sangat bisa terjadi, Yakub terus berdoa sepanjang malam memohon kekuatan dari Allah.
Pada akhirnya Yakub berhasil menjadi pemenang dengan memilih untuk tetap taat.
Saat ini kita harus terus bergumul melawan segala keterikatan-keterikatan dosa dalam diri kita, godaan iblis dan pengaruh kebiasaan-kebiasaan buruk dunia di sekitar kita, saat mau mewartakan Injil Kristus dan menjadi pelaku-pelaku Firman yang tangguh dimana pun kita berada.
Dengan kekuatan sendiri, mustahil kita dapat menjadi pemenangnya.
Karena itu, berdoalah terus dengan sepenuh hati, agar Tuhan berkenan mencurahkan berkat-berkatNya sehingga Injil dapat diwartakan dan diimani sungguh-sungguh oleh kita sendiri dan semua orang.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Memberitakan Injil ke Segala Makhluk
Lihat juga: Bersama Yesus Pergi Beritakan Injil ke Tempat Lain
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.










