Keluaran 12:1-8, 11-14, 1 Korintus 11:23-26, Yohanes 13:1-15
Shalom,
Menurut Injil Yohanes, perjamuan makan malam terakhir Kristus dengan murid-muridNya diadakan sehari sebelum perayaan Paskah Yahudi dimulai.
Yohanes sangat menekankan makna pembasuhan kaki yang dilakukan Kristus pada malam itu, meskipun sesungguhnya dalam perjamuan itu ada hal lain yang sangat penting yang dilakukan Kristus.
Pada malam itu Kristus membagi-bagikan roti dan anggur yang dengan kuasaNya dijadikan Tubuh dan DarahNya sendiri untuk dimakan dan diminum para rasul (1 Korintus 11:23-25).
Lihat juga: Berjaga-jagalah agar Tidak Jatuh ke dalam Dosa
Lihat juga: Kristus Diadili dan Mengadili
Membasuh kaki adalah tugas para hamba/budak. Karena saat itu jalan-jalan di Palestina masih berupa pasir maka orang yang berjakan kaki tentu kakinya akan dikotori butir-butir pasir.
Pembasuhan kaki dimaksud agar pasir-pasir yang melekat pada kaki tidak mengotori ruangan yang akan dimasuki.
Akan tetapi berbeda dengan kebiasaan itu, dalam perjamuan ini Kristus melakukan pembasuhan kaki ini di tengah perjamuan, saat para rasul sudah ada di dalam rumah.
Lihat juga: Ilmuwan Temukan Fakta Baru Relikwi Rasul Filipus dan Yakobus
Lihat juga: Tetap Taat dan Percaya di Saat Kecewa
Kristus tahu, saat bagi Dia untuk memulai proses kembali kepada Bapa telah tiba.
Dia ingin agar pada saatnya semua murid-muridNya dapat bersatu lagi dengan Dia di rumah Bapa.
Karena itu Dia rela membasuh kaki mereka, sebagai simbol membersihkan kotoran-kotoran dosa mereka.
Lihat juga: Berjaga-jagalah agar Tidak Jatuh ke dalam Dosa
Lihat juga: Malaikat-malaikat Allah Sukacita karena Orang Berdosa yang Bertobat
Dalam perjamauan ini Kristus membasuh dengan air, tetapi sesaat lagi Dia akan membersihkan dosa semua orang dengan DarahNya.
Dengan begitu pembasuhan kaki ini bukan hanya suatu pelayanan yang biasa dilakukan seorang hamba, tetapi merupakam simbol kasih yang tidak terhingga.
Kristus rela menjadikan DiriNya sebagai Anak Domba jantan yang tidak bercacat seperti yang dikorbankan oleh nenek moyang bangsa Israel, yang darahnya meluputkan mereka dari kematian dan memulai proses pembebasan dari perbudakan yang kejam di Mesir.
Lihat juga: Menggembalakan Domba-domba Kristus
Lihat juga: Tuhan Memahami Sungguh Kelemahan Keterbatasan Kita
Pada waktu itu, pada tanggal yang telah ditentukan Yahwe dan yang telah disampaikanNya melalui nabi Musa, orang-orang Israel harus mengadakan perjamuan makan malam untuk seluruh keluarga mereka, dengan memakan daging anak domba jantan yang tidak bercacat, yang darahnya harus diolesi dikedua tiang pintu rumah mereka masing-masing (Keluaran 12:3-5, 7-8).
Mereka harus makan dengan cepat dan dalam keadaan bersiap melakukan perjalanan jauh, karena itu roti yang dimakan roti yang tidak beragi dan sayur pahit yang belum sempat diolah.
Pada malam itu, semua orang yang taat mengikuti apa yang disampaikan nabi Musa akan selamat dari kematian dan mereka akan segera memulai proses untuk meninggalkan Mesir selama-lamanya, menuju Tanah Terjanji sebagai orang-orang merdeka.
Lihat juga: Pastor Kopong Malu, Sedih, Prihatin Ada Oknum Katolik “Menjual” Ayat Alkitab untuk “Membela” Israel
Lihat juga: Menjadi Murid yang Sama Seperti Yesus Sang Guru
Pada perjamuan makan itu, setelah Kristus menanggalkan jubahNya, Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-muridNya.
Para murid sangat terkejut karena tidak layak Guru yang sangat mereka hormati, melakukan tugas seorang hamba dan menjadikan mereka seperti tuanNya.
Karena itu Petrus menolak, sama seperti ketika dia menolak saat mendengar pertama kali bahwa Kristus akan ke Yerusalem di mana di kota itu Dia akan disiksa dan dibunuh (Markus 8:31-33).
Lihat juga: Salib Kristus Menyelamatkan Kita
Lihat juga: Bangga Salib Yesus
Kristus menanggapi penolakan itu dengan mengatakan: ‘Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak’.
Dengan kata-kata ini Kristus mau mengatakan bahwa pembasuhan kaki yang Dia lakukan saat itu menjadi contoh bagi para muridNya untuk saling mengasihi dan melayani.
Kristus yang adalah Putera Allah, sebelum Dia melakukan pembasuhan, menanggalkan jubahNya.
Lihat juga: Menghadirkan Kerajaan Allah
Lihat juga: Menghayati Mujizat Allah
Inilah simbol Dia menanggalkan keilahianNya. Dia rela menyerahkan NyawaNya agar dengan darahNya, semua orang dibersihkan dari kotoran-kotor dosa, sehingga boleh dilayakkan masuk ke Rumah Bapa yang damai dan abadi.
Kristus mengenakan lagi jubahNya setelah selesai pembasuhan. KeilahianNya menyatu lagi padaNya setelah Dia menebus dosa manusia dan dibangkitkan dari alam maut.
Lihat juga: Yesus Makan Ikan Bakar dan Roti Panggang, Bangkit!
Lihat juga: Yesus Membangkitkan Segala Macam Kematian Lainnya
Setelah mendengar keterangan Kristus, Petrus dengan bersemangat mengatakan, jangan hanya kakinya saja yang dibasuh, tetapi juga tangan dan kepalanya.
Tetapi Kristus mengatakan: ‘Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi (selain membasuh kakinya) karena ia sudah bersih seluruhnya’.
Penjelasan ini menyiratkan bahwa sakramen baptis yang telah kita terima, adalah satu kali untuk selamanya.
Melalui sakramen itu, Allah telah melayakkan kita menjadi anak-anakNya dan sekali Dia telah mengangkat kita menjadi anak-anakNya, maka itu untuk selamanya.
Lihat juga: RIP Ompung Pastor Anselmus, Sahabat Anak Bina Iman Santa Clara
Lihat juga: Dibaptis: Diangkat Menjadi Anak Allah
Tetapi karena kita masih acap kali berdosa, kita perlu sering ‘membersih kan kaki’ melalui sakramen rekonsiliasi.
Melalui pembasuhan kaki, Kristus mau menanamkan di dalam hati setiap kita, bahwa sebagai muridNya kita harus saling melayani dan mengampuni sebagai ungkapan syukur karena Kristus telah mengasihi dan mengampuni kita terlebih dulu.
Kita harus melayani dan mengampuni semua orang, tanpa memilih-milih dan memilah-milah karena dalam perjamuan itu Kristus juga tetap membasuh kaki Yudas Iskariot yang Dia tahu akan segera menghianatiNya.
Lihat juga: Melayani dengan Ketulusan Hati
Lihat juga: Berjaga-jagalah agar Tidak Jatuh ke dalam Dosa
Pada waktu kita mengenang kembali peristiwa pembasuhan kaki ini, mari periksa diri dengan jujur, masih adakah orang yang belum kita ampuni kesalahannya?
Karena kedagingan masih melekat dalam diri kita, mengampuni dan melayani orang-orang yang pernah menyakiti hati sering menjadi tantangan besar yang malahan dalam beberapa hal terasa tidak mungkin dapat dilakukan.
Kristus yang mengasihi kita, tahu akan segala kelemahan kita.
Karena itu, selain memberi teladan, Dia juga memberikan Tubuh dan DarahNya sebagai makanan dan minuman yang dapat menguatkan, sehingga memampukan kita melakukannya.
Lihat juga: Tuhan Memahami Sungguh Kelemahan Keterbatasan Kita
Lihat juga: Menanggapi Teguran Allah
Peragaan pembasuhan kaki bukan sekedar ritual tahunan atau tontonan saja, tetapi untuk mengingatkan apa yang diperintahkan Kristus setelah Ia mengenakan kembali jubahNya: ‘Jadi kalau Aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu’.
Apakah kita sungguh-sungguh telah melakukan kewajiban ini?
Mari kita bersama-sama menghayati peristiwa pembasuhan kaki diperjamuan makan terakhir Kristus dengan para rasulNya ini dengan penuh imani dalam Misa Kamis Putih pada hari ini.
Selamat memasuki Tri Hari Suci.
Tuhan memberkati kita.
Lihat juga: Membawa yang Lumpuh ke Hadapan Kristus
Lihat juga: Bersujud di Hadapan Kristus
Discover more from HATI YANG BERTELINGA
Subscribe to get the latest posts sent to your email.











